Minggu, 05 Juni 2016

Proletariat yang Terus Berhasrat





“Waktu memang jahanam,
kota kelewat kejam,”

Menjadi proletariat di kaum urban memang akan selalu tidak mudah. Mau tidak mau uang menjadi tujuan utama untuk bertahan hidup di tengah hegemoni masyarakat. Entah demi status sosial atau anak istri, setiap bulan harus tercukupi. Bekerja sepanjang hari hingga lembur demi insentif sampai lupa wajah matahari pagi.






“Hari-hari berulang,
diriku kian hilang.
Himpitan hutang. Tagihan awal bulan.”
Rasa aman akan penghasilan ternyata harus dibayar dengan kenyamanan. Rutinitas, cicilan, tagihan awal bulan, himpitan hutang harus ditambah dengan sampingan. Lupakan cita-cita dan impian. Ganti dengan iming-iming penghasilan dan jabatan.




“Tujuh tahun yang lalu,
impian membawaku
Kota menghisapku habis, tubuh makin tipis, dompetku kembang-kempis”
Rokok ketengan dan kopi abang-abang jadi pelarian. Penenang yang lebih dicari dibanding nasi, sayur, dan ikan teri.
Aku rasa waktuku lebih berharga dari pada sekedar simpan tenaga. Lupakan rehat yang penting dompetku sehat. Semua demi hasrat.




“Tujuh tahun berlalu,
impianku tersapu”
Tanpa terasa waktu terus berputar. Keabadian yang mebuatku gentar. Wahai proletar, mau sampai kapan?


Peringatan!
Tuhan pun sudah bersyair di ujung malam yang lingsir. Mengapa bertahan dikehidupan yang satir? Padahal satu-satunya kepastian itu adalah ketidakpastian yang mondar-mandir.


“Uang bawa ‘tualang sesat di jalan, menjauhi pulang.”
Tak sadar hasrat membuatku sesat. Uang membawaku hilang, hingga lupa rasa pulang. Terjebak di petualangan yang membuat aku tidak tahu kapan berhenti. Tanpa sadar aku sudah mati walau jasad tetap berlari. Apa itu identitas diri?
Demi Tuhan, atau demi setan. Sumpah, aku ingin rumah untuk pulang.





Lagu rantau yang menyadarkan. Dari dosa, kota dan kenangan.
Karena aku tersilampukaukan.






Teks: Safa Prasodjo

Foto: Fransiska Amelia

Senin, 04 April 2016

Saat Surabaya Dipindah ke Jakarta

Karis dan Eki di panggung Teater Kecil TIM

Hampir empat bulan lagu Puan Kelana mondar - mandir di playlist hp saya. Ajaibnya saya tidak pernah tau kalau lagu yang mempunyai lirik dengan rima kurang ajar ini adalah milik Silampukau. Duo asal Surabaya dengan genre folk.

Kau putar sekali lagi Champs-Elysees.
Lidah kita bertaut a la Francais.
Langit sungguh jingga itu sore,
dan kau masih milikku.
Silakan perhatikan kutipan bait pertama lagu Puan Kelana. Pernah sesakit hati apa kah orang yang membuat lirik macam itu?
Sampai akhirnya saya memutuskan untuk jatuh cinta dengan ngganteng-nya suara Mas Eki dan Karis saat mereka muncul di Teater Kecil TIM. Silampukau dan kawan - kawan saya rasa berhasil memindahkan Surabaya ke Cikini seketika. Imajinasi Surabaya dibenak saya disulap menjadi lebih romantis dari Paris. Gigs yang dirasakan juga sangat intim, membuat Kalya teman yang secara tidak sengaja menjadi teman kencan tiba-tiba itu nyengir - nyengir sambil bergumam "Mas Karis ganteng...". Saya pun dalam hati mengamini, "Mas Eki juga ganteng.." ok salah. 
Kesimpulan yang bisa saya rasakan adalah Silampukau merupakan musisi folk termewah yang pernah saya tonton live. Lirik kampret, yang entah darimana kepikiran menyandingkan kata bir, kafir, dan matrimoni dalam satu bait. Mungkin jenius atau perlu mabuk potas? Saya rasa keduanya.

"Let me put it this way, Silampukau boys are sharp and spot on because of one reason. They have harnessed the most powerful part of folk music: Narrative. When I listen to Dosa, Kota dan Kenangan, I hear vulnerability. I hear honest memories. I hear cities’ cruelty. I hear myself. This vulnerable narrative travels so far beyond the music, it reaches strange places in your head, plays with your mind. Trust me, you don’t want to talk about anything technical when you can find witty phrases like “entah merlot entah Cap Orang Tua” put stylishly with grace and virtue in a song." Teguh Wicaksono
Sang Puan Kelana harus terpukau dengan karya Silampukau. Lagu Doa yang terlalu sering diamini penontonnya sampai akhirnya cerita Dosa, Kota, dan Kenangan benar sampai di Jakarta. Tentu tidak perlu menunggu sampai tua untuk akhirnya masuk televisi. hehehe..




Kalya, Pandji, Saya
Sebenarnya yang paling anjing adalah makhluk sialan namun beruntung menjadi keyboardist malam itu, Pandji Putranda. Saya pikir saya akan nonton bareng dengan si kampret ini, tapi ternyata tak siangka, tak dinyana dia ada di atas panggung. well.....

Selamat buat Silampukau yang penampilannya jauh diatas sukses, jancuk! Sofia, kamu pasti menyesal. Tapi terimakasih sudah diyakinkan untuk datang. pfftt..... Kalya, entah apa jadinya saya tanpa Puan. Maafkan aku Jawir, wanitamu kupinjam beberapa jam. 

Kamis, 22 Oktober 2015

Langgam Bola Mati dari Bosnia

Hampir semua merapat ke layar kaca. Menjadi pelipur lara bagi kebanyakan anak muda untuk sekedar hanyut di sosial media. Namun tidak terlalu sukar buat pemuja sepakbola Kota Roma, untuk sekedar redakan murka. Terasa lebih mudah mencari obat hati termujarap saat ini. Lihat saja Miralem Pjanic mengeksekusi bola mati.

Di waktu-waktu "chicken wings" Rudi Garcia terbentur jalan buntu, ada Pjanic membantu.
Buat apa bersulit ria ngeyel menusuk dari sayap kanan kiri? Jatuh saja, cukup di depan kotak pinalti, biarkan Pjanic menendang bola mati. Begitu fasih memikat hati, pemuda Bosnia ini diincar banyak klub besar akhir musim nanti.

10 gol dicetaknya, hanya kalah 2 gol dari Andrea Pirlo di Serie A. 

Berbeda dengan Pangeran Roma, Francesco Totti. Beliau juga ahli urusan bola mati. Tetapi Totti punya cara sendiri. Dibanding dengan Pjanic yang meluncurkan bola bagai pelangi, Totti lebih suka maksimalkan kekuatan di ujung kaki. Cara Totti seperti sengaja mengincar penjaga gawang tak sadarkan diri, namun Pjanic cukup menyihir kiper diam berdiri.

No Pjanic, No Magic.

(dibacakan seperti Mata Najwa di akhir acara)


Jumat, 25 September 2015

Chicken Wings Rudi Garcia

Rudi Garcia
Apakah menurut Anda ayam goreng itu enak? Jelas. Namun jika Anda makan ayam goreng saat sarapan, makan siang, makan malam setiap hari, apa Anda masih akan memandang ayam goreng itu enak? Bagi Rudi Garcia pasti tetap enak.

Saya sebagai pelanggan setia Roma Resto tentu selalu berharap menu yang menggugah. Rudi Garcia sebagai koki utama saat ini, gemar menyajikan hidangan ayam. Dia terkenal dengan kemahirannya memasak chicken wings. Beberapa kali beliau menyajikan aneka masakan dengan chicken wings sebagai bahan dasarnya. Beberapa diantaranya adalah chicken wings dengan perpaduan bumbu asal Pantai Gading, Argentina, dan Serbia. Namun James Pallota selaku bos besar kurang puas dengan chicken wings ala Garcia. Karena restoran nyonya tua sebelah yang jauh lebih berpengalaman mampu menjadi restoran nomer wahid, sedangkan chicken wings Garcia hanya mampu bertengger di posisi kedua.

Akhirnya investasi besar kembali dilakukan James Pallota. Walter Sabatini Direktur Bahan Pangan Roma Resto, dituntut bekerjasama dengan Rudi Garcia untuk menciptakan hidangan terbaik di kompetisi musim depan. Saya sangat berharap akan ada inovasi dan kreatifitas baru di menu Roma Resto.

6 bulan berlalu. Optimisme kembali dipanaskan dengan slogan "Hungry for Glory". Walter Sabatini berhasil memborong bahan baku yang mampu menjadi hidangan utama. Hingga akhirnya awal musim dimulai dengan beberapa janji racikan baru Garcia.

Entah kesalahan ada pada lidah saya atau hidangannya. Alih-alih menyediakan menu lain, semacam menu lokal seperti pizza atau spageti, Garcia lagi-lagi menyediakan chicken wings. Ya, chicken wings kali ini tanpa bumbu asal Serbia, tapi dengan tambahan minyak zaitun ala mesir dan tortilla kentang ala spanyol. Hasilnya? Saya mual.
Saya sempat iri dengan teman saya yang menceritakan enaknya menu baru restoran di kotanya. Makanan khas Montenegro selalu padu dengan appetizer bruschetta yang dimasak ala Argentina. Tidak heran memang, karena kokinya pun memang berpengalaman, karena sempat menjuarai master chef di italia dan inggris beberapa tahun lalu. Pantas disana sekarang ramai pengunjung.

“Saya mengerti dengan adanya pandangan negatif tentang chicken wings yang saya buat. Namun kekhawatiran akan inovasi racikan saya tidak beralasan, karena kadang saya pun memasak sup sayap ayam atau nasi goreng dengan ayam goreng bagian sayap,” tutur Garcia yang dikutip oleh romaresto.com.


Saya membanting handphone saya.

Minggu, 20 September 2015

Déjà vu Edin Dzeko

Edin Dzeko
Datangnya bomber asal bosnia ini memang melengkapi skuad Roma musim ini. Namun entah memang sengaja atau memang cara pandang saya dalam memahami skuad Roma berbeda dengan Rudi Garcia dan Sabatini? Hadirnya Dzeko hanya menambal sulam kepergian Destro, Doumbia, dan Borrielo. Betul sekali jika kualitas ketiga penyerang sebelumnya masih di bawah Dzeko, tapi jika Dzeko dianalogikan seperti  Bams Samsons yang terus – terusan dipaksa menyanyi dengan tenaga dan nada yang tinggi akhirnya di satu titik, pita suaranya pun cedera. Sekarang apa ada yang pernah mendengar Bams di tv lagi? Begitu juga Dzeko. Terlalu riskan menaruh beban gol disetiap pertandingan di satu orang saja.

Masih dini memang untuk mengkritisi kebijakan Rudi Garcia saat musim baru berjalan dua pertandingan saja. Tapi saya yakin tidak sedikit romanisti yang khawatir performa Roma hanya akan menjadi ejakulasi dini. Mau sampai kapan kita romanisti hanya akan bersorak sorai untuk posisi runner up?

Kekhawatiran saya berujung dengan membuka website asroma.it, melihat apa ada koleksi seorang Central Forward selain Dzeko. Ternyata nihil. Beralih ke situs transfermarkt.com lah saya menemukan satu orang rekrutan baru, Ezequel Ponce. Siapa Ponce? Remaja 18 tahun asal Argentina ini sepertinya hanya akan berakhir di Roma Primavera.

Francesco Totti akhirnya lah yang menjadi jawaban sementara. Mungkin di umurnya yang nyaris 40 tahun ini sudah beberapa kali fase yang dialaminya. Dari kebanggaan sebagai pemuda asli Roma yang menembus tim utama, kebahagiaan menjadi kapten kesebelasan, sampai tanggung jawab sebagai tumpuan utama disetiap musim. Sekarang jika di Trigoria ada orang yang berkata “Totti, kamu adalah tumpuan utama tim musim ini,” tentu raut mukanya akan berbeda dengan Totti sekitar 15 tahun lalu. “Gue lagi, gue lagi,” gerutunya sambil memegangi punggungnya yang mulai sering masuk angin.

Dzeko dan Pjanic
Namun musim ini Totti boleh duduk di bench dengan lebih tenang. Beban besarnya sudah mulai diringankan dengan hadirnya duo Bosnia, Pjanic dan Dzeko. Bayangkan saja tugas menjadi sumber kreatifitas, pemimpin, dan mesin gol seperti sudah biasa dialami Totti. Saya yakin, saat Anda diberi job desk rangkap dua saja pasti sudah misuh misuh minta resign dan cari tempat kerja lain. Sekarang Totti cukup fokus menjadi leader bagi timnya, baik di dalam atau luar lapangan.


Memang hanya di sektor penyerang sayap saja stok pemain bisa sangat dalam dan merata. Sektor bek sayap kiri, playmaker, dan penyerang lah yang riskan kedodoran jika salah satu ada yang cedera. Namun jika melihat formula yang terjadi saat bursa transfer musim ini mirip-mirip dengan 15 tahun lalu. Saat Roma yang kekurangan tenaga dalam mendobrak untuk merebut scudeto, datanglah Batistuta yang menjadi mesin gol. Apa déjà vu Batistuta dan Dzeko memiliki ending yang sama?

Jumat, 24 Juli 2015

Menilik Sabatini dan Pilihan Senjatanya

Walter Sabatini. Saya perlu mengucap terimakasih yang sangat banyak atas keberhasilannya mendatangkan Miralem Pjanic, Kevin Strootman, dan Radja Nainggolan plus mempertahankannya hingga saat ini. Saya tidak peduli dengan suara-suara sumbang bahwa Anda adalah seorang Laziale. Yang penting adalah Anda bekerja dengan baik. Namun memang Anda masih suka luput dalam menilai seorang ujung tombak.

Bisa kita katakan Pjanic, Strootman, Nainggolan, dan De Rossi adalah tongkat kokoh yang menunjang pisau diujungnya. Terkadang kekokohan mereka di lini tengah menjaga ball possession tidak diimbangi ketajaman pisau di lini serang. Pada awal tahun (lagi-lagi) tepatnya saat Piala Afrika berlangsung, Roma kehilangan staring. Membuat saya yang menonton pertandingannya, menjadi perapal banyak mantra demi sebuah gol! Buat apa kita mengayun-ayunkan tombak tanpa memiliki tusukan mematikan? Seperti melihat pasukan berkuda bersenjatakan ilmu taekwondo, Kotaro Minami yang lupa cara berubah menjadi Ksatria Baja Hitam, atau Indomie Goreng tanpa telur. Tidak mematikan.

Bisa dilihat dari jumlah gol Roma di awal tahun 2015 dibandingkan dengan di awal musim. 10 pertandingan awal musim, Roma berhasil membobol gawang lawan sebanyak 18 kali, sedangkan 10 pertandingan awal tahun, Roma hanya berhasil membobol gawang lawan sebanyak 12 kali. Jika ditarik menjadi 15 pertandingan maka perbandingannya akan melebar menjadi 30 : 17. Anomali ini juga terjadi musim lalu.


Mattia Destro dan Marco Borrielo lah bomber yang dimiliki Rudi Garcia sejak dua tahun lalu. Destro cukup berhasil di musim 2013-2014 dengan mengemas 13 gol. Tersubur di Roma kala itu. Namun di musim berikutnya, Destro hanya berhasil mengemas 4 gol (plus 3 gol di Milan karena dipinjamkan setengah musim). Bisa dimaklumi penurunan Destroyer ini karena cedera yang dialaminya saat awal musim. Tapi mungkin Sabatini melihat cedera Destro ini sudah seperti flu, tiap musim akan kambuh lagi.Sehingga dia masuk Transfer List musim ini. Padahal Destro adalah andalan saya di PES maupun FIFA, skill yang dimilikinya memang tidak wah. Tidak memiliki tendangan semematikan Baloteli, sundulannya pun tidak seberbahaya Klose, atau kecepatan dan dribelnya juga tidak lebih baik dari Higuain. Namun positioning-nya lah yang juara. Kemampuan "loh kok bisa ada dia disitu" lah yang bisa disandingkan dengan Inzagi. Tipikal striker licin. Tidak perlu skill tinggi yang penting bola akan saya masukkan ke gawang. Sayang jika harus melihatnya di klub italia lain.

Borrielo? Tampangnya yang keren ternyata tidak sekeren statistiknya. Padahal entah kenapa saya selalu merasa Borrielo salah satu striker yang bisa membuat defender lawan dedegan. Sundulannya bisa tiba-tiba muncul dan sangat bertenaga. Kemampuan fisiknya yang kuat ditambah tendangan kaki kirinya juga bisa membuat kepala pusing jika mendarat di jidat. Mungkin diusianya yang sudah mulai tua, ditambah gajinya yang mahal menjadi pertimbangan Sabatini untuk tidak mempertahankannya lama-lama. 3 musim dipinjamkan ke 3 klub berbeda, dan akhirnya musim ini permanen di Genoa. Semoga sukses penyerang andalan (di football manager).

Selain mereka berdua muncul Francesco Totti, Usia yang sudah 39 tahun ini apa masih etis untuk memberinya beban menjebol gawang setiap pekan? Walaupun gejala susah mencetak golnya belum muncul, bahkan sempat menjadi top skor klub di musim 2014-2015 dengan 11 gol, Totti tidak selayaknya diberi tumpuan seberat itu. Setidak sopan sarjana muda yang masih minta jajan papanya saja.

Habis Destro terbitlah Seydou Doumbia. Menarik jika melihat karir dari bomber asal Pantai Gading ini. Karir Profesionalnya berawal di J-League 2 bersama Kashiwa Reysol. Bakat Doumbia muda terendus oleh scout dari swiss, hingga akhirnya dia bisa menyandang predikat seorang bomber subur dengan mencetak 57 gol dari 78 pertandingan. Karirnya menanjak bersama CSKA Moskow. Bermain di Liga Champion berhasil melambungkan namanya di benua Eropa. Ditambah CV yang makin mentereng dengan capaian 84 gol dari 130 pertandingan. Tentu harapan besar ada dipundak Doumbia saat direkrut ke Roma. Tapi rekan senegara Gervinho ini masih terlalu canggung bermain di Serie A. 2 gol dalam setengah musim bukan hasil yang baik buat seorang striker.

Ada satu hal yang dilupakan Sabatini. Doumbia orang Afrika. "Saya butuh bomber! Mana bomber subur pesannan saya, Pak?" ujar Rudi Garcia awal tahun lalu. "Aduh! Masih main di Piala Afrika," Sabatini menutup mukanya. "Lah kok lali meneh toh pakde? Gervinho podo wae. Totti meneh yo aku ra penak, Pak." Garcia misuh-misuh.

Mungkin tadi pagi Garcia sudah mulai khawatir hingga mengirim pesan singkat ke Sabatini, "Pagi, Pak Sabatini. Pesanan saya sudah ready? Bomber, sudah mencetak lebih dari 100 gol, item gapapa, asal jangan Afrika. Trims."

"Maaf, mas. Mitrovic nggak jadi. Keduluan anak kampung sebelah. Dzeko, insya Alloh, Mas. Aku lagi lobi Pak James untuk nambah sangu. Kalo sulit nanti dicoba ke pasar loakan, Mas. Ada merk bagus tapi perawatan susah si Baloteli atau lawas lumayan si Berbatov?"

Senin, 19 Januari 2015

Rudi Garcia dan Pengawal Sayapnya


Sudah lebih dari tiga kali Roma musim ini menyianyiakan kesempatan menikung Juventus. Saya sendiri sudah hampir bosan dengan judul-judul media saat Juventus terpeleset. Dari headline “Saatnya Roma menyodok capolista” hingga yang bernada penuh semangat kutipan Radja Nainggolan “Ini saatnya kita rebut posisi nomor satu “. Seperti solider dengan Juve, Roma malah ikut-ikutan terpeleset.

Bek Sayap

Bekal yang dibawa Garcia jelas lebih banyak untuk mengarungi musim ini dibanding debutnya tahun lalu. Namun beberapa celah mulai terlihat mengganggu. Bagai daging yang terselip diujung gusi, salah satunya kehadiran Ashley Cole seperti hanya geli-geli saja. Alih-alih me
njadi pemain bintang, bapak yang sempat sukses menjadi salah satu bek kiri paling berbahaya di tanah Inggris ini malah menjadi celah buat para penyerang lawan. Cole terlihat tergopoh-gopoh dimakan usia untuk menyisir sisi kiri lapangan. Dengan Balzareti yang cedera praktis Roma menyisakan Jose Holebas. Orang yang baru saja saya tau keberadaannya tahun ini. Beruntung ternyata bek Yunani ini cukup ajaib untuk ukuran bek kiri. Lihat saja golnya ke gawang Inter Milan.

Di sisi kanan Roma menyediakan bek senior Maicon dan Torosidis. Bukan mau merendahkan Maicon, namun bagai Cinderela, Maicon hanya mampu sangat maksimal setengah babak saja. Lebih dari itu dia asam uratnya kambuh (sepertinya). Torosidis sang pelapis pun tidak terlalu wah. Kadang Florenzi dipaksa mengisi posisi ini jika keduanya sedang kumat.

Melihat situasi ini membuat saya bernostalgia ke awal 2000-an. Posisi bek sayap yang diisi duet Vincent Candela dan Marcos Cafu mungkin salah satu yang terbaik di dunia saat itu. Selain mereka saya juga akan sangat ingat dengan bek kontroversial Cristian Pannuci.

“Ibarat mobil saya dan Cristiano Ronaldo sudah berbeda mesin, tidak mungkin saya mengejarnya,” ujar Pannuci saat begitu frustasinya menjadi bulan-bulanan Ronaldo saat melawan MU.

Entah mungkin menjadi kebiasaan buat Roma pada tahun-tahun selanjutnya untuk membeli bek-bek sayap medioker. Yah, kalau tidak medioker pasti sudah memasuki usia om-om. Sebut saja Marco Casseti, Max Tonetto, Abel Xavier, Gabriel Heinze, atau John Arne Riise. Saat bergabung dengan skuad, mereka sudah berumur 30 tahun keatas. Terkesan hanya mengambil celah bek murah lumayan atau gratisan dari klub lain yang kebetulan habis kontrak saja. Mungkin ada pengecualian saat Walter Sabatini (Direktur Olahraga Roma) mendatangkan Jose Angel. Diantara morat-maritnya pertahanan Roma era Enrique, Jose Angel menjadi satu-satunya yang membuat saya merasa Roma masih memiliki bek bagus. Walaupun akhirnya dia dibuang oleh Zeman di musim selanjutnya.

Beberapa musim sebelumnya mungkin masih ada Cicinho bek sayap yang cukup memiliki nama dan tidak uzur. Tapi ya ternyata selain numpang cedera, performa  Cicinho tidak lebih baik dari Marco Casetti kala itu. (intermezzo) apa menurut kalian Marco Casetti mirip Gary Iskak?


Mungkin ada baiknya Garcia mulai memikirkan kembali posisi ini  setidaknya untuk musim depan. Saya rasa terlalu riskan untuk percaya kepada kumpulan paman yang menghuni posisi ini. Davide Santon atau Coentrao mungkin? Atau mencoba pemain akademi akan terlihat lebih menyenangkan dan murah.

Lebih menyenangkan bukan melihat promosinya pemain akademi di tim utama? Bayangkan saja, saat ini praktis hanya dua orang pemain utama yang merupakan produk asli akademi, yaitu Daniele De Rossi dan Francesco Totti. Mungkin bisa ditambah Alesandro Florenzi yang sedang mati-matian bersaing dengan Gervinho, Iturbe, Ljajic, dan sang kapten sendiri Totti.

Di posisi bek sayap sebenarnya beberapa kali Roma memunculkan nama-nama muda. Seperti Aleandro Rosi, Alessandro Crescenzi, Alessio Romagnoli, atau yang teranyar Michael Somma. Aleandro Rosi sempat menyodok posisi bek kanan Roma di awal tahun 2011. Gaya drible yang sangat terlihat meniru Cristiano Ronaldo, sempat menjanjikan sebuah opsi serangan. Stamina dan kekuatan drible dari Rosi ini cukup membahayakan pertahanan lawan Bahkan Rosi bisa menjadi seorang bek yang berfungsi cut inside yang menusuk langsung ke dalam kotak pinalti. Namun di tahun selanjutnya dia dipinjamkan ke klub lain dan digeser bek antah berantah Ivan Piris.

Alessandro Crescenzi lebih mengharukan. Setelah debut diusia 17 tahun pada musim 2009/2010 melawan Sampdoria, Crescenzi tidak pernah dipasang lagi dan selalu dipinjamkan. Total hingga musim ini beliau sudah dipinjamkan ke delapan klub. Sungguh pemain pinjaman sejati. Padahal menilik skill yang dimilikinya (jika mengintip dari game Football Manager dan PES),  Crescenzi merupakan bek serba guna. Dia mampu beroprasi di kanan atau di kiri lapangan. Fisiknya pun cukup kuat untuk seorang bek dan juga memiliki kecepatan yang lumayan. Entah, mungkin karena bau badan mungkin yang membuat dia susah diterima di ruang ganti tim utama hingga sekarang.

Lalu Alessio Romagnoli. Posisi aslinya adalah bek tengah. Namun sudah seperti hal lumrah, seorang bek debutan pasti tidak akan langsung dipercaya berdiri di depan gawang persis. Entah takut sang debutan gugup atau malah membuat kiper dibelakangnya was-was. Sempat dipasang sebagai bek kiri, ternyata Romagnoli cukup mengesankan mengawal sisi kiri. Tubuhnya yang cukup menjulang setinggi 188 cm bisa jadi kelebihan khusus. Mungkin hanya perlu waktu sedikit lagi untuk menunggu matangnya Romagnoli. Saat ini dia sudah menjadi salah satu pilihan utama di Sampdoria.


Kemudian yang baru saja naik kelas tahun ini. Michael Somma. Saya sempat berpikir kalau dia ini adalah penyerang sayap karena acap kali muncul namanya di papan skor saat laga pra musim. Mengejutkan memang untuk seorang anak bawang. Garcia seharusnya sudah memikirkan opsi Somma untuk menggeser posisi Maicon, atau setidaknya Torosidis. Namun sepertinya Torosidis selalu punya cara mengambil hati para pelatih untuk tetap meyakinkan dirinya tetap di tim utama (setidaknya cadangan utama lah). Padahal Torosidis ini ibarat caleg, tidak memberikan inovasi sama sekali. Cuma ya bisa saja jadi bek kanan.


Mungkin sudah saatnya Garcia mengintip para pemain muda. Kalau itu terlalu riskan, ya bukan waktunya tambal sulam pemain harga + skill pas-pasan.

Rabu, 05 Maret 2014

Beberapa oknum manusia suka memonopoli Surga.
Memang kamu siapa?
Developer di Surga?
























digerutukan oleh safa saat keselek makan bengbeng dan diberitahu itu sebab belum baca doa. Karena kalo belum baca doa nggak bisa masuk Surga. Katanya gitu.

Rabu, 19 Februari 2014

Mikir

If we think only of ourselves, forget about other people, then our minds occupy very small area. Inside that small area, even tiny problem appears very big. But the moment you develop a sense of concern for others, you realize that, just like ourselves, they also want happiness; they also want satisfaction. When you have this sense of concern, your mind automatically widens. At this point, your own problems, even big problems, will not be so significant. The result? Big increase in peace of mind. So, if you think only of yourself, only your own happiness, the result is actually less happiness. You get more anxiety, more fear.

-Dalai Lama-

Sabtu, 08 Februari 2014

Kebencian Abadi di Kota Abadi

Persaingan ketat, rivalitas dan mempunyai musuh bebuyutan adalah hal biasa yang terjadi di dunia sepakbola. Misalkan di La Liga Spanyol. Persaingan antara Real Madrid dan Barcelona yang sangat panas hampir disetiap musimnya. Selalu terjadi duel sengit antara duo raksasa Spanyol ini. Bisa dilihat dari antusiasme pemain sebelum pertandingan hingga suporter yang bisa berbondong-bondong datang ke stadion. Tidak jarang pertandingan berakhir ricuh. Duel yang disebut juga El Classico ini bahkan terasa panasnya hingga seluruh penjuru dunia. Tidak heran rating and share dari pertandingan ini di TV sangat tinggi. Lalu di Inggris ada persaingan antara Manchester United dan Liverpool yang juga sudah melegenda. Persaingan saling sikut memperebutkan gelar juara atau sekedar gengsi masih akan selalu panas hingga saat ini.

Namun salah satu rivalitas terpanas dan mempunyai tensi paling tinggi justru berada di ibu kota Italia, Roma. Terdapat dua klub raksasa ibu kota yang sudah berpuluh-puluh tahun bersaing bahkan sangat kental aroma permusuhan, yaitu AS Roma dan Lazio. Terdengar sangat subjektif melihat saya adalah fans dari AS Roma, namun saya mencoba objektif untuk menyebut rivalitas kedua klub adalah rivalitas yang menggumkan. Banyak pertandingan derby atau persaingan klub besar yang sering saya saksikan, tapi tidak pernah sepanas pertandingan dan persaingan antara AS Roma dan Lazio yang juga disebut Derby della Capitale  atau derby ibu kota. Memang El Classico mempunyai "penggemar" yang besar dan persaingan yang ketat, tapi persaingan belum mampu menandingi kehebatan Derby della Capitale. Derby lainnya di Italia pun juga tidak ada yang semegah Derby della Capitale. Misalnya Derby della Madonina, Derby d'italia, atau Derby della Mole yang terasa masih lebih "bersahabat".

Anda tentu boleh mempunyai pendapat lain, tapi coba perhatikan beberapa hal yang akan saya coba ceritakan. Pertama latar belakang dari rivalitas ini tidak hanya soal sepakbola. Banyak unsur-unsur politik juga yang sering sengaja disampaikan dari pendukung-pendukung kedua klub. Para suporter di Kota Roma seakan memang memperlihatkan bahwa pertandingan derbi ibu kota ini tidak hanya sekekdar permainan. Klub AS Roma didirikan hasil penggabungan dari tiga tim. Roman, Alba-Audace dan Fortitudo, yang merupakan instruksi dari rezim fasis yang berkuasa dan diprakarsai oleh Italo Foschi. Pada masa itu Benito Mussolini memang sengaja menginginkan sebuah klub asal Roma yang kuat untuk menantang dominasi klub dari utara yang sangat perkasa seperti Juventus, AC Milan, Internazionale dan Torino. Namun ada satu klub yang menolak merger tersebut, tidak lain adalah Lazio. Hal ini juga merupakan pengaruh salah satu jendral fasis, Giorgio Varccaro. Dari sini dimulai persaingan antara kedua klub. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa AS Roma mewakili kaum buruh, karena mempunyai basis penggemar yang banyak di berbagai penjuru kota, sedangkan Lazio adalah representasi dari kaum borjuis, pendatang yang ingin menguasai Roma. Asumsi ini dibalas Lazio dengan menyebutkan bahwa mereka lebih dulu terbentuk dari AS Roma, maka Lazio lah yang berhak menguasai kota. Lazio didirikan tahun 1900 dan AS Roma baru didirikan 27 tahun setelahnya.  "Italia bukan lah negara bersatu seperti Amerika Serikat. Orang di sini lebih menganggap diri mereka sebagai Roman, atau Tuscan atau Sisilia dibanding Italia." jelas Franco Spicciarello penulis olahraga ternama di Kota Roma.


Sebenarnya pendukung kedua klub mempunyai kesamaan, yaitu membenci arogansi klub dari utara. Namun fakta bahwa AS Roma dan Lazio tetap tidak banyak meraih gelar dibandingkan klub raksasa utara menyempitkan pandangan kedua pendukung. Roministi dan Laziale semakin berpikir bahwa mereka setidaknya bisa menguasai Kota Roma yang malah meruncingkan persaingan kedua klub.  Rivalitas semakin terbentuk sampai menimbulkan kebencian yang melebih rasa cinta terhadap klubnya sendiri. Bisa dilihat ketika persaingan antara AS Roma dan Internazionale sedang sangat ketatnya dalam perebutan gelar juara, Laziale berulah dengan mencoba mengancam pemainnya sendiri saat pertandingan antara lazio dan Inter digelar. Spanduk seperti "Biarkan bolanya masuk Muslera (Penjaga gawang Lazio saat itu), maka kau akan tetap kami cintai!" lalu ada juga "Jangan kamu berani mencetak gol, Zarate! Atau akan kami paketkan ke Buenos Aires!" Jose Mourinho yang melatih Inter saat itu pun heran. "Tidak pernah saya melihat hal seperti ini," katanya. Hal seperti ini bahkan tak hanya sekali dilakukan oleh pendukung Lazio. Lalu juga beberapa kali Laziale bertindak rasis kepada pemain Roma yang kebetulan banyak diperkuat pemain Brazi berkulit hitam. Dari kubu romanisti juga beberapa kali melakukan ejekan yang sarkas kepada pemain Lazio, bahkan juga mantan pemain Lazio. Korbannya adalah Paulo Negro. Saat Roma berhasil merebut Scudetto pada tahun 2001, Roma hanya memimpin tipis diatas Juventus. Tentu hasil pertandingan derbi ibu kota saat itu sangat berpengaruh untuk kejayaan Roma saat itu. Kebetulan kemenangan 1-0 terjadi berkat gol bunuh diri bek Lazio, Paulo Negro. Nasib buruk bagi Negro saat sudah pindah membela Siena, Romanisti melakukan standing applause tepat saat Negro memasuki lapangan di pertandingan Roma melawan Siena. Sebuah ejekan yang akan selalu menjadi beban seumur hidup mungkin.

Para icon dari kedua klub juga banyak memberikan cerita seru saat Derby della Capitale berlangsung. Misalkan head to head antara Pangeran Roma, Francesco Totti dan kapten Lazio saat itu, Alessandro Nesta. Kedua pemain sempat beradu skill, dimana kepiawaian Nesta menjaga daerah pertahanan diimbangi dengan visi dan kemampuan Totti mengatur serangan, bahkan sempat terjadi tensi tinggi antara kedua pemain yang sama-sama memperkuat tim nasional Italia itu. Kemudian ada aksi pemboikotan pertandingan di Tahun 2003. Saat itu tiga pimpinan suporter turun ke lapangan untuk berbicara langsung kepada Totti. Terdengar oleh pemirsa di televisi kalau suporter akan membunuh para pemain jika pertandingan tidak dihentikan, alasannya ada anak kecil terbunuh di luar stadion akibat ulah polisi. Mendengar itu Totti berdiskusi dengan wasit dan pengurus pertandingan, yang berakhir dengan keputusan pertandingan harus ditunda. Ternyata setelah diusut berita anak kecil yang terbunuh hanya hoax dan akal-akalan beberapa suporter Roma untuk membalas perlakuan Polisi yang dianggap sewenang-wenang. Pernah juga disela pertandingan kedua suporter saling melempar mercon dan kembang api sampai memaksa pertandingan dihentikan sementara.  Kedua kapten tim saat itu, Paolo Di Canio dan Francesco Totti pun sampai harus berdamai sementara untuk menghampiri tribun suporter guna mengendalikan keadaan.


Banyak drama yang terjadi disetiap pertemuan Roma dan Lazio. Kali ini Roma datang dengan membawa tren bagus dibanding Lazio. Berada di posisi kedua dengan hanya sekali kalah dari pemimpin klasemen, Juventus, Roma mencoba memberikan permainan menyerang ala Rudi Garcia. Lazio juga kali ini sedang menanjak performanya setelah berpindah pelatih dari Vlad Petkovic ke Edy Reja. Drama apa yang akan tercipta di Derby della Capitale kali ini? Saya pasti akan selalu berharap Roma yang berjaya.

Minggu, 19 Januari 2014

Ke Entah Berantah

Halo. Permisi.
Gokil juga. Terakhir gue nulis blog April 2013, yang berarti udah sekitar 9 bulan yang lalu. 
Setara dengan durasi ibu mengandung. Kalo mengandungnya normal ya. Ya kalo nggak normal kan bisa lebih cepet gitu kan, atau malah lebih lama. Anaknya betah di dalem. Males ke dunia luar yang sudah hina ini. Banyak kejahatan dan korupsi. Somay pun sudah bukan ikan tenggiri. Daging sapi dipolitisasi. 

Oke. Maaf.
Fokus.

Dari judul blognya aja udah My Life Intermezzo. Mestinya nggak susah kan temanya. Ini entah gue nggak ada intermezzonya sama sekali akhir-akhir ini jadi gak bisa nulis atau hidup gue lagi intermezzo semua. Hahaha.
Kayanya sih alasannya ya emang lagi intermezzo semua hidup yang sedang gue jalani. cie gitu...

Disela intermezzo itu gue menemukan intermezzo lagi. Jadi semacam intermezzo-ception. Setelah sebelumnya gue share musiknya Dini Budiayu sama Paroeh Waktoe, sekarang gue nemu Bandaneira! Masih termasuk musik "ngamar" yang kaya gue bilang sebelumnya mungkin, tapi beda. Bandaneira ini lebih ceria. Kaya bangun pagi pas lagi camping. Seneng aja denger mereka ini.

Pertama kali gue tau Bandaneira itu dari soundcloud. Awalnya dari follow Rahne terus liat ada Rara Sekar yang akhirnya gue follow juga. Lalu gue bisa dibilang jatuh cinta pada pendengaran pertama. Suara si Rara ini enak banget. Ibarat coklat tuh Cadbury. Pas tau dia bikin Bandaneira fix lah gue ngefans.

Setelah gue cuma bisa menikmati Bandaneira dari soundcloud doang akhirnya bisa ketemu mereka dan liat mereka live perform di GFJA. Padahal waktu itu cuma tau bakal ada Float. Bisa dibilang jackpot! Hehe. Kalo liat langsung waktu itu sih lucu. Lucu yang kocak, kaya grogi. Karena disitu diliatin Float mungkin, atau emang gigs di GFJA tuh emang gokil. Hahaha. Padahal mereka udah keren banget dengan Bandaneria-nya itu. Nah, yang gue kaget sih pas tau si gitaris dan vokalis cowonya, Ananda Badudu, nggak seperti apa yang gue bayangkan kalo lagi dengerin Bandaneira. Gue pikir tongkrongannya kaya vokalisnya Dialog Dini Hari, yang brewok-brewok gimana. Nggak masalah sih. Intermezzo aja. Intermezzo di dalam intermezzo yang ternyata intermezzo juga. Oke silahkan minum panadol.

Bandaneira di GFJA
Terus baru sempet beli CDnya di Joy Land. Festival musik paling nyaman sih. Nyaman di kantong terutama, dan nggak penuh. Artisnya juga nggak ada batas sama penontonnya. Pas lagi nonton Dialog Dini Hari ada satu lagu yang malah Dadang, vokalisnya DDH request penontonnya nyanyi di depan kalo mau lanjut. Gue pengen banget nekat naik panggung tapi kurang di dorong aja sama temen gue, jadi keduluan. Alesan. tapi yah gimana.. Sedikit menyesal. cih.. Oh iya maap. Fokus. 

Karena Joy Land itu seperti yang gue bilang tadi, artis sama penontonnya nggak ada batas. Bisa membaur aja. Bisa aja tiba-tiba yang duduk sebelah lo tuh artis yang lagi nunggu giliran manggung. Suatu hari gue harus manggung disana juga. Biar bisa keren jalan-jalan keliling festival sok asik ngobrol sama orang terus tiba-tiba manggung. Ternyata artis. cie gitu... Akhirnya disana gue bisa sempet ngobrol dan minta tanda tangan Bandaneira. Mayan.

Gue dan Rara
Kalo diliat dari albumnya, Beberapa lagu Bandaneira udah bisa didenger di soundcloudnya. Tapi tetep puas sama isinya. Track pertamanya langsung dikasih lagu "alarm". Liriknya aja disuruh bangun. Judulnya Berjalan Lebih Jauh. Lagu ini sempet gue puter terus di soundcloud. Mungkin gue salah satu penyebab utama lagu ini keputer sampe puluhan ribu. Kalo gue disuruh rekomendasi lagu apa yang harus didenger di album ini ya semuanya. Semua lagunya enak. Seriusan! Kalo kata mereka genre musik yang dibawain tuh "Nelangsa Riang". Mungkin ada yang bilang Bandaneira ini bakal mirip-mirip Endah and Rhesa karena sama-sama duet akustikan, kalo kata gue sih beda. Bukannya salah satu ada yang lebih bagus tapi emang dua-duanya punya karakter. Halah sok pakar. Tapi bener, yang paling terasa itu ya sederhananya musik Bandaneira yang menyenangkan didenger ditambah duet suara Rara Sekar sama Ananda Badudu yang pas. Mereka kaya udah jodoh bisa duet nyanyi bareng gitu. Seperti sudah ditakdirkan berkolaborasi oleh Tuhan. Ibarat minuman tuh Kopi Susu kali ya. Eh jangan deh, ntar yang jadi kopi kesian. Fanta sama susu kali. Dimana Fanta dan Susu ini emang bisa diminum sendiri-sendiri dan tetep enak, tapi kalo digabungin, diaduk menjadi satu, bercampur, bersenyawa, dan kunfayakun! Jadi lah Soda Gembira! Nelangsa riang! Bandaneira! Asik ye analogi gue? Asikin lah.

Lalu dan kemudian, mereka juga kreatif memaksimalisasikan kesederhanaan musik Bandaneira. Misalnya di lagu Esok Pasti Jumpa. Humming sama impersonisasi terompet yang masuk ke kuping tuh sedap banget. Jadi sederhana yang super mahal. Kaya restoran padang. Terus lagu Senja di Jakarta yang "nelangsa riang" banget. Hujan di Mimpi yang bikin nerawang. Rindu, musikalisasi puisi yang sekali denger langsung nempel. Suara-suara xylophone yang menghipnotis. Semuanya enak lah. Mau dibahas satu-satu nanti jadi takut jadi berlebihan. Pokoknya semua enak. Suara Rara enak banget parah kacau gokil, jatuh cinta sama vibranya. Terus Ananda jago banget main gitarnya, pake nyanyi juga pula. Gue main gitar yang cuma genjreng sambil nyanyi aja masih kaget-kaget. Gokil lah. Beli gih CDnya. Bisa difollow juga twitternya @dibandaneira. Nilainya 9. Nice works! 

Terimakasih sudah membawa saya pergi ke entah berantah.
Dan kamu yang menemani saya berjalan lebih jauh.



:)

Senin, 01 April 2013

"Karena se-paroehwaktoe kami untuk musik."

Paroeh Waktoe


Sekarang nggak tau kenapa lagi menjamur musik-musik indie yang gloomy-gloomy gimanaaa gitu.. atau guenya aja yang selera kupingnya kearah situ terus. Mungkin emang saya yang lagi sangat suka lagu-lagu yang "menenangkan" perasaan. Jadi lebih sering dengerin yang akustikan, nggak terlalu rame, terus bisa bikin suasana yang enak. Nah, ini gue temuin di album Paroehwaktoe!

Sebenernya dari sebelum albumnya ada gue udah sering denger lagu-lagu mereka, tapi nggak nyangka kalau ternyata akan jadi superb banget albumnya. Bagaimana band ini bikin musik yang simpel di kuping, tapi juga mewah. Sesuai sama judul albumnya Imaginarium of midnight sound, lo begitu dengerin track pertamanya akan diajak berkhayal. Suasana malam yang nyampe di kuping jadi seperti sampul novel yang mengantarkan pendengarnya ke tema yang ada di halaman-halaman lagu yang ada di track selanjutnya. SABI siiiih! Dengerin pake headset sih kece abis suaranya. Kalo gue, pertama denger intronya nyoba untuk merem. Disana, di dalam suara-suara lantunan intro itu gue melihat diri gue ada di padang rumput luas tengah malem sambil ngeliat bintang, dan padang rumput disini terdengarnya sangat asri. (halah "asri"...). Nggak jauh dari sungai sama pegunungan. Padahal padang rumput itu nggak jauh dari kota, karena ada pesawat yang lewat. Untung nggak ada nyamuk di padang rumputnya, kan nggak enak dengerin lagu pake bawa Vape.

Jujur sih semua lagu di album ini enak. Udah berusaha objektif, walaupun mereka temen-temen gue juga. Tapi ini beneran enak semua. Suara saxophone Carol yang gila kerennya bikin album ini mewah banget, Suara bass sama drumnya Indra dan Indra ini (hahaha) yang membuat suasana ditiap lagunya tuh tenang, suara piano Pandji yang ngasih warna juga buat Paroehwaktoe, dan suara Quina yang membuat musiknya jadi bernyawa. (tsah ilah) Tapi seriusan! Semuanya enak. Pas! Buat pandji, gue akui suara lo di lagu All I Gotta Do ganteng. Ini gue nulis kalimat tadi buat memuji elu nji, menghabiskan banyak energi yang banyak. Mungkin setelah nge-blog gue bedrest 3 hari.

Sebenernya satu yang sangat berasa tuh, cepet banget buat dengerin satu album ini. Entah emang sebentar atau gue selalu menikmati sampe akhir. Hehehe.

Lagu yang sangat direkomendasikan buat nyengir-nyengir All I Gotta Do, Innocent as It Seems? (Thus, Spoke Valdano), sama Deborah. Terus lagu buat gegalauan at Rainbow's End sama Speak Lies to The Moon. Buat mikir lagu Terimakasih bisa juga, ini lagu paling gue suka! Terus lagu Cuci Jemur Setrika Biles terserah deh mau dimasukin kemana. Tapi sabi kok nji, lagu mabok lu. Sukses buat teman-teman saya, buat Paroehwaktoe!

(beranda sendja kapan neh? -_-)

@paroehwaktoe nih twitternya

BELI, JANGAN COPY PUNYA TEMEN AJA YA. APALAGI DIBAJAK, DIJUAL MP3-NYA. IH. KESIAN KAN.

nih agan-agannya







Selasa, 09 Oktober 2012

#intermezzo

Karena sesungguhnya berjudi dengan ketidak-pastian adalah keadaan yang selalu harus dilalui seorang juara















*lagi semangatin diri sendiri* 

coba kamu bisa semangatin aku kaya gini

Minggu, 09 September 2012

Sometimes, Bitter is Sweeter to Taste

Kenapa?
Diliat dari judulnya kayak gue mau curhat-curhat kecil gitu ya?
*curhat-curhat kecil ki opooo tho?!*

Nggak kok, berhubung saya sedang berlimpah koneksi internet jadi mau disalurkan aja hobi nulis yang sudah lama hilang. Apa lagi blog ini juga udah jarang banget diurusin. *bersihin sarang laba2*
Mana kayanya baru berapa baris aja tulisan gue kok kaku amat ya? Bahasanya tuh jadi kaya canggung aja gitu, secanggung obrolan ketika lo diajak ngobrol sama orang di toilet umum pas lagi pipis. 

"Mas, udah sering pipis disini ya?" 
"Uh emmm... Yah lumayan lah.."
"Oh gitu.. Oke saya sudah selesai, duluan ya, Mas."
"Oh silahkan, hati-hati, Mas.."

Well, adegan diatas hanya berlaku di toilet cowo kayanya ya.
Nah, rencananya insya Alloh, jika Tuhan berkenan, alam mendukung, dan FPI masih pake sorban kalo naik motor saya mungkin mau dibiasakan kalo habis nonton film apa atau denger lagu apa atau baca apa terus direview diblog. Katanya buat mencegah pikun juga kan kalo sering nulis gitu.

Kali ini gue mau nulis tentang album musik yang seriiing banget keputer akhir-akhir ini. Judulnya "Sometimes, Bitter is Sweeter to Taste". Mau mati nggak tuh tau judul albumnya aja gitu? Kesannya kayak setelah denger lagu-lagunya tuh lo bakal ditemukan mengambang di sungai dengan urat nadi terurai dan mata sembab. Tapi tenang, ternyata nggak gitu kok. Gue buktinya masih sehat. *bahkan terlalu sehat setelah lebaran kemarin. Penyanyinya adalah Dini Budiayu, jujur gue belum pernah liat orangnya gimana, malah gue bisa dapet lagunya dari temen gue yang pulang liputan event musik bawa oleh-oleh CD. Orang itu bernama Pandji Putranda si pria seribu derita yang akhir-akhir ini lebih sering pacaran sama laptopnya, namun ternyata kemarin dapet banyak surat cinta dari mahasiswa baru. Sialan. Aku iri. Coba gue ikutan jadi panitia yang ospek, pasti banyakan surat ke gue! 

Oke ngelantur.
Jadi, buat kalian penikmat musik-musik ngamar pasti cocok banget nih! Maksud ngamar tuh musik-musik yang akustikan tenang dengan lirik yang bikin nerawang kemana-mana dan efeknya makin seru kalo dinikmati di kamar sambil matiin lampu, nyalain AC, selimutan terus bukannya lo ketiduran malah jadi mikir macem-macem. *makin oke kalo sambil bakar sayuran yang itu lho...


Nah, pertama lo akan disambut genjrengan gitar dari lagu temporarily broken. Ini menurut gue nendang. Gue suka banget lagu ini karena seperti membuka kenyataan bahwa ternyata orang yang sedang jatuh cinta tuh ya "temporarily broken", too bright and confusing she said. Terus lo dibikin pengen ikutan berpikir apa sih cinta itu? Nggak perduli seberapa indah sensasi yang dirasakan, kalo lo mau melihat dari sudut pandang lain pasti lo sendiri bakal mempertanyakan "kenapa sih gue?"

Lagu kedua Minor Song of Mine. Jujur aja, gue suka banget sama musiknya dan suaranya Dini disini. Superb! Lagu favorite nomer satu di album ini. Sekali denger langsung suka!

Teruus, longkap melewati beberapa track, langsung ke lagu "I Love You to Much". Bagus nih buat yang lagi susah move on. Hahaha..
"I love youuuuuuu...huuuuu...youuuu uuuuuu.... I love youuuu to much beb...." enak banget vibranya di lirik ini. Jadi ikutan bergetar.

Itu tiga lagu yang gue suka banget. Bukan berarti yang lainnya jelek atau biasa aja. Semuanya oke banget! Serius! Emang kebetulan aja tiga lagu diatas nempel banget di kuping gue. Jadi itu yang gue bahas. Lagu lainnya yang gue rekomen, Senja yang Sendu, None of You Will Marrie Me, Seharian, dan Mistress. 

Nilainya 9. 
Keren. 
Beli deh, gak nyesel. Beli dimana gue sih nggak tau ya. Soalnya di toko cd yang di mall gitu nggak ada. Ini aja gue ada karena emang beli pas dia nyanyi. Mungkin bisa tanya ke orangnya langsung di @dinibudiayu. Pokoknya kalo udah punya, siap-siap memasuki dunianya si dini yang kesannya gelap tapi menenangkan. Sensasi tenangnya tuh kaya lo minum coklat panas di sore waktu mendung dingin. Hmmm yah emang sensasi kaya gini juga bisa didapetin kalo lo sambil meluk pacar super model yang taat beragama, sayang anak kecil, hormat kepada pasangan dan orang tua, suaranya bagus, dan tidak bau ketek. Lebih tenang kayanya sih. heeeeeem nyeeem...

Btw, lagu Mistress sama Temporarily Broken udah ada video clip-nya. Mungkin bisa disearch di youtube.

Rabu, 02 Mei 2012

Mungkin Kebanyakan Nonton Dahsyat

Pada suatu hari di Indomart

Ibu Pembeli : Mba, ada teh hijau daun gak?

Mba2 Indomart : hah?

                           (mikir bentar kira2 5 detik)

                            oooh teh pucuk harum kali!

Ibu Pembeli : oh udah ganti...iya itu maksudnya..

Totti, Loyalitas, dan Nasionalisme





Francesco Totti adalah sebuah gambaran loyalitas.  Totti kecil mungkin hanya bisa bermimpi menjadi seorang pesepakbola ketika melihat idolanya Giuseppe Giannini memimpin kesebelasan AS Roma di lapangan. Mengawali karir sebagai pesepakbola ditahun 1992 dengan kesebelasan yang sama dengan idolanya. Sampai  dua puluh tahun kemudian, seorang Francesco Totti menjadi kapten kesebelasan, pangeran, dan simbol kota Roma. Mencetak dua gol ke gawang Cessena 21 Januari yang lalu merupakan gol ke 211-nya di liga Italia. Sebuah rekor gol terbanyak seorang pemain untuk satu klub di Italia. Sempat membawa AS Roma merasakan berbagai macam gelar sampai mengantar Italia juara dunia, Totti sudah melebihi pencapaian idolanya sendiri.

“Karena saya tumbuh untuk menjadi pemain Roma dan saya akan bermain sampai mati di Roma.”  Ucap Totti dalam sebuah wawancara di dalam sebuah acara televisi Italia pada tahun 2007. Loyalitas yang diberikan Totti merupakan pilihan. Bisa saja dia menuju klub yang lebih besar sekelas Real Madrid pada tahun 2007 untuk meraih lebih banyak gelar juara, fasilitas, dan uang. Namun dia memilih untuk tetap di Roma, mewujudkan cita-cita menjadikan klub kota kelahirannya nomor satu di dunia. Walaupun Roma belum menjadi yang terbaik, ia percaya yang telah diperjuangkan bisa menjadikan inspirasi yang nantinya menjadi aksi bahwa menjadikan sebuah loyalitas merupakan salah satu kesuksesan terbesar.

Totti bisa menjadi contoh sebuah loyalitas dalam berbagai hal. Nasionalisme bisa jadi. Keinginan memberikan sebuah perubahan. Di Indonesia menjadi seorang yang loyal merupakan hal yang cukup sulit. Melihat negara yang setiap harinya selalu muncul berita kekacauan mengenai berbagai hal dalam negeri. Seorang pemuda di Indonesia pasti sering merasa iri dengan kemajuan yang dialami banyak negara lainnya. Bahkan Malaysia yang dianggap negara yang mencuri banyak kebudayaan di Indonesia harus diakui sudah lebih mapan dibanding Indonesia. Indonesia yang masih sibuk dengan masalah-masalah dalam negerinya. Konspirasi, korupsi, kolusi, dan berbagai manipulasi informasi terjadi sehari-hari.

Beruntung ternyata generasi muda saat ini banyak mengadakan gerakan perubahan untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik. Selain itu kritikan tentang kebijakan–kebijakan pemerintah tidak hanya diberikan seorang ahli atau pengamat politik, tapi juga banyak dilakukan mahasiswa. Dari kritikan kecil melalui sindiran–sindiran dari banyak acara televisi sampai gerakan ekstrim yang dilakukan Sondang Hutagalung.  Aksi bakar diri  yang seperti menggambarkan “bagaimana lagi memberikan teguran kepada petinggi negara ini?” bila tidak didasari sebuah loyalitas besar yang kemudian menjadi sebuah ke-nasionalisme-an, tidak mungkin Sondang sampai nekat memilih kematian.
Francesco Totti mungkin tidak sampai seekstrim Sondang. Namun keduanya sama–sama melahirkan pijakan untuk sebuah perubahan dalam konteksnya masing–masing. Menjadi sebuah inspirasi. Memberikan stimulus ke banyak orang bahwa sebuah loyalitas bisa menjadi salah satu kekuatan besar. Kekuatan yang persuasif. Terutama kekuatan yang terus membawa semangat perubahan ke arah yang lebih baru dan lebih baik bagi masa depan banyak orang.

As Safa Prasodjo / 08120110049
tugas tajuk rencana