Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 April 2016

Saat Surabaya Dipindah ke Jakarta

Karis dan Eki di panggung Teater Kecil TIM

Hampir empat bulan lagu Puan Kelana mondar - mandir di playlist hp saya. Ajaibnya saya tidak pernah tau kalau lagu yang mempunyai lirik dengan rima kurang ajar ini adalah milik Silampukau. Duo asal Surabaya dengan genre folk.

Kau putar sekali lagi Champs-Elysees.
Lidah kita bertaut a la Francais.
Langit sungguh jingga itu sore,
dan kau masih milikku.
Silakan perhatikan kutipan bait pertama lagu Puan Kelana. Pernah sesakit hati apa kah orang yang membuat lirik macam itu?
Sampai akhirnya saya memutuskan untuk jatuh cinta dengan ngganteng-nya suara Mas Eki dan Karis saat mereka muncul di Teater Kecil TIM. Silampukau dan kawan - kawan saya rasa berhasil memindahkan Surabaya ke Cikini seketika. Imajinasi Surabaya dibenak saya disulap menjadi lebih romantis dari Paris. Gigs yang dirasakan juga sangat intim, membuat Kalya teman yang secara tidak sengaja menjadi teman kencan tiba-tiba itu nyengir - nyengir sambil bergumam "Mas Karis ganteng...". Saya pun dalam hati mengamini, "Mas Eki juga ganteng.." ok salah. 
Kesimpulan yang bisa saya rasakan adalah Silampukau merupakan musisi folk termewah yang pernah saya tonton live. Lirik kampret, yang entah darimana kepikiran menyandingkan kata bir, kafir, dan matrimoni dalam satu bait. Mungkin jenius atau perlu mabuk potas? Saya rasa keduanya.

"Let me put it this way, Silampukau boys are sharp and spot on because of one reason. They have harnessed the most powerful part of folk music: Narrative. When I listen to Dosa, Kota dan Kenangan, I hear vulnerability. I hear honest memories. I hear cities’ cruelty. I hear myself. This vulnerable narrative travels so far beyond the music, it reaches strange places in your head, plays with your mind. Trust me, you don’t want to talk about anything technical when you can find witty phrases like “entah merlot entah Cap Orang Tua” put stylishly with grace and virtue in a song." Teguh Wicaksono
Sang Puan Kelana harus terpukau dengan karya Silampukau. Lagu Doa yang terlalu sering diamini penontonnya sampai akhirnya cerita Dosa, Kota, dan Kenangan benar sampai di Jakarta. Tentu tidak perlu menunggu sampai tua untuk akhirnya masuk televisi. hehehe..




Kalya, Pandji, Saya
Sebenarnya yang paling anjing adalah makhluk sialan namun beruntung menjadi keyboardist malam itu, Pandji Putranda. Saya pikir saya akan nonton bareng dengan si kampret ini, tapi ternyata tak siangka, tak dinyana dia ada di atas panggung. well.....

Selamat buat Silampukau yang penampilannya jauh diatas sukses, jancuk! Sofia, kamu pasti menyesal. Tapi terimakasih sudah diyakinkan untuk datang. pfftt..... Kalya, entah apa jadinya saya tanpa Puan. Maafkan aku Jawir, wanitamu kupinjam beberapa jam. 

Minggu, 19 Januari 2014

Ke Entah Berantah

Halo. Permisi.
Gokil juga. Terakhir gue nulis blog April 2013, yang berarti udah sekitar 9 bulan yang lalu. 
Setara dengan durasi ibu mengandung. Kalo mengandungnya normal ya. Ya kalo nggak normal kan bisa lebih cepet gitu kan, atau malah lebih lama. Anaknya betah di dalem. Males ke dunia luar yang sudah hina ini. Banyak kejahatan dan korupsi. Somay pun sudah bukan ikan tenggiri. Daging sapi dipolitisasi. 

Oke. Maaf.
Fokus.

Dari judul blognya aja udah My Life Intermezzo. Mestinya nggak susah kan temanya. Ini entah gue nggak ada intermezzonya sama sekali akhir-akhir ini jadi gak bisa nulis atau hidup gue lagi intermezzo semua. Hahaha.
Kayanya sih alasannya ya emang lagi intermezzo semua hidup yang sedang gue jalani. cie gitu...

Disela intermezzo itu gue menemukan intermezzo lagi. Jadi semacam intermezzo-ception. Setelah sebelumnya gue share musiknya Dini Budiayu sama Paroeh Waktoe, sekarang gue nemu Bandaneira! Masih termasuk musik "ngamar" yang kaya gue bilang sebelumnya mungkin, tapi beda. Bandaneira ini lebih ceria. Kaya bangun pagi pas lagi camping. Seneng aja denger mereka ini.

Pertama kali gue tau Bandaneira itu dari soundcloud. Awalnya dari follow Rahne terus liat ada Rara Sekar yang akhirnya gue follow juga. Lalu gue bisa dibilang jatuh cinta pada pendengaran pertama. Suara si Rara ini enak banget. Ibarat coklat tuh Cadbury. Pas tau dia bikin Bandaneira fix lah gue ngefans.

Setelah gue cuma bisa menikmati Bandaneira dari soundcloud doang akhirnya bisa ketemu mereka dan liat mereka live perform di GFJA. Padahal waktu itu cuma tau bakal ada Float. Bisa dibilang jackpot! Hehe. Kalo liat langsung waktu itu sih lucu. Lucu yang kocak, kaya grogi. Karena disitu diliatin Float mungkin, atau emang gigs di GFJA tuh emang gokil. Hahaha. Padahal mereka udah keren banget dengan Bandaneria-nya itu. Nah, yang gue kaget sih pas tau si gitaris dan vokalis cowonya, Ananda Badudu, nggak seperti apa yang gue bayangkan kalo lagi dengerin Bandaneira. Gue pikir tongkrongannya kaya vokalisnya Dialog Dini Hari, yang brewok-brewok gimana. Nggak masalah sih. Intermezzo aja. Intermezzo di dalam intermezzo yang ternyata intermezzo juga. Oke silahkan minum panadol.

Bandaneira di GFJA
Terus baru sempet beli CDnya di Joy Land. Festival musik paling nyaman sih. Nyaman di kantong terutama, dan nggak penuh. Artisnya juga nggak ada batas sama penontonnya. Pas lagi nonton Dialog Dini Hari ada satu lagu yang malah Dadang, vokalisnya DDH request penontonnya nyanyi di depan kalo mau lanjut. Gue pengen banget nekat naik panggung tapi kurang di dorong aja sama temen gue, jadi keduluan. Alesan. tapi yah gimana.. Sedikit menyesal. cih.. Oh iya maap. Fokus. 

Karena Joy Land itu seperti yang gue bilang tadi, artis sama penontonnya nggak ada batas. Bisa membaur aja. Bisa aja tiba-tiba yang duduk sebelah lo tuh artis yang lagi nunggu giliran manggung. Suatu hari gue harus manggung disana juga. Biar bisa keren jalan-jalan keliling festival sok asik ngobrol sama orang terus tiba-tiba manggung. Ternyata artis. cie gitu... Akhirnya disana gue bisa sempet ngobrol dan minta tanda tangan Bandaneira. Mayan.

Gue dan Rara
Kalo diliat dari albumnya, Beberapa lagu Bandaneira udah bisa didenger di soundcloudnya. Tapi tetep puas sama isinya. Track pertamanya langsung dikasih lagu "alarm". Liriknya aja disuruh bangun. Judulnya Berjalan Lebih Jauh. Lagu ini sempet gue puter terus di soundcloud. Mungkin gue salah satu penyebab utama lagu ini keputer sampe puluhan ribu. Kalo gue disuruh rekomendasi lagu apa yang harus didenger di album ini ya semuanya. Semua lagunya enak. Seriusan! Kalo kata mereka genre musik yang dibawain tuh "Nelangsa Riang". Mungkin ada yang bilang Bandaneira ini bakal mirip-mirip Endah and Rhesa karena sama-sama duet akustikan, kalo kata gue sih beda. Bukannya salah satu ada yang lebih bagus tapi emang dua-duanya punya karakter. Halah sok pakar. Tapi bener, yang paling terasa itu ya sederhananya musik Bandaneira yang menyenangkan didenger ditambah duet suara Rara Sekar sama Ananda Badudu yang pas. Mereka kaya udah jodoh bisa duet nyanyi bareng gitu. Seperti sudah ditakdirkan berkolaborasi oleh Tuhan. Ibarat minuman tuh Kopi Susu kali ya. Eh jangan deh, ntar yang jadi kopi kesian. Fanta sama susu kali. Dimana Fanta dan Susu ini emang bisa diminum sendiri-sendiri dan tetep enak, tapi kalo digabungin, diaduk menjadi satu, bercampur, bersenyawa, dan kunfayakun! Jadi lah Soda Gembira! Nelangsa riang! Bandaneira! Asik ye analogi gue? Asikin lah.

Lalu dan kemudian, mereka juga kreatif memaksimalisasikan kesederhanaan musik Bandaneira. Misalnya di lagu Esok Pasti Jumpa. Humming sama impersonisasi terompet yang masuk ke kuping tuh sedap banget. Jadi sederhana yang super mahal. Kaya restoran padang. Terus lagu Senja di Jakarta yang "nelangsa riang" banget. Hujan di Mimpi yang bikin nerawang. Rindu, musikalisasi puisi yang sekali denger langsung nempel. Suara-suara xylophone yang menghipnotis. Semuanya enak lah. Mau dibahas satu-satu nanti jadi takut jadi berlebihan. Pokoknya semua enak. Suara Rara enak banget parah kacau gokil, jatuh cinta sama vibranya. Terus Ananda jago banget main gitarnya, pake nyanyi juga pula. Gue main gitar yang cuma genjreng sambil nyanyi aja masih kaget-kaget. Gokil lah. Beli gih CDnya. Bisa difollow juga twitternya @dibandaneira. Nilainya 9. Nice works! 

Terimakasih sudah membawa saya pergi ke entah berantah.
Dan kamu yang menemani saya berjalan lebih jauh.



:)

Senin, 01 April 2013

"Karena se-paroehwaktoe kami untuk musik."

Paroeh Waktoe


Sekarang nggak tau kenapa lagi menjamur musik-musik indie yang gloomy-gloomy gimanaaa gitu.. atau guenya aja yang selera kupingnya kearah situ terus. Mungkin emang saya yang lagi sangat suka lagu-lagu yang "menenangkan" perasaan. Jadi lebih sering dengerin yang akustikan, nggak terlalu rame, terus bisa bikin suasana yang enak. Nah, ini gue temuin di album Paroehwaktoe!

Sebenernya dari sebelum albumnya ada gue udah sering denger lagu-lagu mereka, tapi nggak nyangka kalau ternyata akan jadi superb banget albumnya. Bagaimana band ini bikin musik yang simpel di kuping, tapi juga mewah. Sesuai sama judul albumnya Imaginarium of midnight sound, lo begitu dengerin track pertamanya akan diajak berkhayal. Suasana malam yang nyampe di kuping jadi seperti sampul novel yang mengantarkan pendengarnya ke tema yang ada di halaman-halaman lagu yang ada di track selanjutnya. SABI siiiih! Dengerin pake headset sih kece abis suaranya. Kalo gue, pertama denger intronya nyoba untuk merem. Disana, di dalam suara-suara lantunan intro itu gue melihat diri gue ada di padang rumput luas tengah malem sambil ngeliat bintang, dan padang rumput disini terdengarnya sangat asri. (halah "asri"...). Nggak jauh dari sungai sama pegunungan. Padahal padang rumput itu nggak jauh dari kota, karena ada pesawat yang lewat. Untung nggak ada nyamuk di padang rumputnya, kan nggak enak dengerin lagu pake bawa Vape.

Jujur sih semua lagu di album ini enak. Udah berusaha objektif, walaupun mereka temen-temen gue juga. Tapi ini beneran enak semua. Suara saxophone Carol yang gila kerennya bikin album ini mewah banget, Suara bass sama drumnya Indra dan Indra ini (hahaha) yang membuat suasana ditiap lagunya tuh tenang, suara piano Pandji yang ngasih warna juga buat Paroehwaktoe, dan suara Quina yang membuat musiknya jadi bernyawa. (tsah ilah) Tapi seriusan! Semuanya enak. Pas! Buat pandji, gue akui suara lo di lagu All I Gotta Do ganteng. Ini gue nulis kalimat tadi buat memuji elu nji, menghabiskan banyak energi yang banyak. Mungkin setelah nge-blog gue bedrest 3 hari.

Sebenernya satu yang sangat berasa tuh, cepet banget buat dengerin satu album ini. Entah emang sebentar atau gue selalu menikmati sampe akhir. Hehehe.

Lagu yang sangat direkomendasikan buat nyengir-nyengir All I Gotta Do, Innocent as It Seems? (Thus, Spoke Valdano), sama Deborah. Terus lagu buat gegalauan at Rainbow's End sama Speak Lies to The Moon. Buat mikir lagu Terimakasih bisa juga, ini lagu paling gue suka! Terus lagu Cuci Jemur Setrika Biles terserah deh mau dimasukin kemana. Tapi sabi kok nji, lagu mabok lu. Sukses buat teman-teman saya, buat Paroehwaktoe!

(beranda sendja kapan neh? -_-)

@paroehwaktoe nih twitternya

BELI, JANGAN COPY PUNYA TEMEN AJA YA. APALAGI DIBAJAK, DIJUAL MP3-NYA. IH. KESIAN KAN.

nih agan-agannya







Minggu, 09 September 2012

Sometimes, Bitter is Sweeter to Taste

Kenapa?
Diliat dari judulnya kayak gue mau curhat-curhat kecil gitu ya?
*curhat-curhat kecil ki opooo tho?!*

Nggak kok, berhubung saya sedang berlimpah koneksi internet jadi mau disalurkan aja hobi nulis yang sudah lama hilang. Apa lagi blog ini juga udah jarang banget diurusin. *bersihin sarang laba2*
Mana kayanya baru berapa baris aja tulisan gue kok kaku amat ya? Bahasanya tuh jadi kaya canggung aja gitu, secanggung obrolan ketika lo diajak ngobrol sama orang di toilet umum pas lagi pipis. 

"Mas, udah sering pipis disini ya?" 
"Uh emmm... Yah lumayan lah.."
"Oh gitu.. Oke saya sudah selesai, duluan ya, Mas."
"Oh silahkan, hati-hati, Mas.."

Well, adegan diatas hanya berlaku di toilet cowo kayanya ya.
Nah, rencananya insya Alloh, jika Tuhan berkenan, alam mendukung, dan FPI masih pake sorban kalo naik motor saya mungkin mau dibiasakan kalo habis nonton film apa atau denger lagu apa atau baca apa terus direview diblog. Katanya buat mencegah pikun juga kan kalo sering nulis gitu.

Kali ini gue mau nulis tentang album musik yang seriiing banget keputer akhir-akhir ini. Judulnya "Sometimes, Bitter is Sweeter to Taste". Mau mati nggak tuh tau judul albumnya aja gitu? Kesannya kayak setelah denger lagu-lagunya tuh lo bakal ditemukan mengambang di sungai dengan urat nadi terurai dan mata sembab. Tapi tenang, ternyata nggak gitu kok. Gue buktinya masih sehat. *bahkan terlalu sehat setelah lebaran kemarin. Penyanyinya adalah Dini Budiayu, jujur gue belum pernah liat orangnya gimana, malah gue bisa dapet lagunya dari temen gue yang pulang liputan event musik bawa oleh-oleh CD. Orang itu bernama Pandji Putranda si pria seribu derita yang akhir-akhir ini lebih sering pacaran sama laptopnya, namun ternyata kemarin dapet banyak surat cinta dari mahasiswa baru. Sialan. Aku iri. Coba gue ikutan jadi panitia yang ospek, pasti banyakan surat ke gue! 

Oke ngelantur.
Jadi, buat kalian penikmat musik-musik ngamar pasti cocok banget nih! Maksud ngamar tuh musik-musik yang akustikan tenang dengan lirik yang bikin nerawang kemana-mana dan efeknya makin seru kalo dinikmati di kamar sambil matiin lampu, nyalain AC, selimutan terus bukannya lo ketiduran malah jadi mikir macem-macem. *makin oke kalo sambil bakar sayuran yang itu lho...


Nah, pertama lo akan disambut genjrengan gitar dari lagu temporarily broken. Ini menurut gue nendang. Gue suka banget lagu ini karena seperti membuka kenyataan bahwa ternyata orang yang sedang jatuh cinta tuh ya "temporarily broken", too bright and confusing she said. Terus lo dibikin pengen ikutan berpikir apa sih cinta itu? Nggak perduli seberapa indah sensasi yang dirasakan, kalo lo mau melihat dari sudut pandang lain pasti lo sendiri bakal mempertanyakan "kenapa sih gue?"

Lagu kedua Minor Song of Mine. Jujur aja, gue suka banget sama musiknya dan suaranya Dini disini. Superb! Lagu favorite nomer satu di album ini. Sekali denger langsung suka!

Teruus, longkap melewati beberapa track, langsung ke lagu "I Love You to Much". Bagus nih buat yang lagi susah move on. Hahaha..
"I love youuuuuuu...huuuuu...youuuu uuuuuu.... I love youuuu to much beb...." enak banget vibranya di lirik ini. Jadi ikutan bergetar.

Itu tiga lagu yang gue suka banget. Bukan berarti yang lainnya jelek atau biasa aja. Semuanya oke banget! Serius! Emang kebetulan aja tiga lagu diatas nempel banget di kuping gue. Jadi itu yang gue bahas. Lagu lainnya yang gue rekomen, Senja yang Sendu, None of You Will Marrie Me, Seharian, dan Mistress. 

Nilainya 9. 
Keren. 
Beli deh, gak nyesel. Beli dimana gue sih nggak tau ya. Soalnya di toko cd yang di mall gitu nggak ada. Ini aja gue ada karena emang beli pas dia nyanyi. Mungkin bisa tanya ke orangnya langsung di @dinibudiayu. Pokoknya kalo udah punya, siap-siap memasuki dunianya si dini yang kesannya gelap tapi menenangkan. Sensasi tenangnya tuh kaya lo minum coklat panas di sore waktu mendung dingin. Hmmm yah emang sensasi kaya gini juga bisa didapetin kalo lo sambil meluk pacar super model yang taat beragama, sayang anak kecil, hormat kepada pasangan dan orang tua, suaranya bagus, dan tidak bau ketek. Lebih tenang kayanya sih. heeeeeem nyeeem...

Btw, lagu Mistress sama Temporarily Broken udah ada video clip-nya. Mungkin bisa disearch di youtube.