Rabu, 19 Februari 2014

Mikir

If we think only of ourselves, forget about other people, then our minds occupy very small area. Inside that small area, even tiny problem appears very big. But the moment you develop a sense of concern for others, you realize that, just like ourselves, they also want happiness; they also want satisfaction. When you have this sense of concern, your mind automatically widens. At this point, your own problems, even big problems, will not be so significant. The result? Big increase in peace of mind. So, if you think only of yourself, only your own happiness, the result is actually less happiness. You get more anxiety, more fear.

-Dalai Lama-

Sabtu, 08 Februari 2014

Kebencian Abadi di Kota Abadi

Persaingan ketat, rivalitas dan mempunyai musuh bebuyutan adalah hal biasa yang terjadi di dunia sepakbola. Misalkan di La Liga Spanyol. Persaingan antara Real Madrid dan Barcelona yang sangat panas hampir disetiap musimnya. Selalu terjadi duel sengit antara duo raksasa Spanyol ini. Bisa dilihat dari antusiasme pemain sebelum pertandingan hingga suporter yang bisa berbondong-bondong datang ke stadion. Tidak jarang pertandingan berakhir ricuh. Duel yang disebut juga El Classico ini bahkan terasa panasnya hingga seluruh penjuru dunia. Tidak heran rating and share dari pertandingan ini di TV sangat tinggi. Lalu di Inggris ada persaingan antara Manchester United dan Liverpool yang juga sudah melegenda. Persaingan saling sikut memperebutkan gelar juara atau sekedar gengsi masih akan selalu panas hingga saat ini.

Namun salah satu rivalitas terpanas dan mempunyai tensi paling tinggi justru berada di ibu kota Italia, Roma. Terdapat dua klub raksasa ibu kota yang sudah berpuluh-puluh tahun bersaing bahkan sangat kental aroma permusuhan, yaitu AS Roma dan Lazio. Terdengar sangat subjektif melihat saya adalah fans dari AS Roma, namun saya mencoba objektif untuk menyebut rivalitas kedua klub adalah rivalitas yang menggumkan. Banyak pertandingan derby atau persaingan klub besar yang sering saya saksikan, tapi tidak pernah sepanas pertandingan dan persaingan antara AS Roma dan Lazio yang juga disebut Derby della Capitale  atau derby ibu kota. Memang El Classico mempunyai "penggemar" yang besar dan persaingan yang ketat, tapi persaingan belum mampu menandingi kehebatan Derby della Capitale. Derby lainnya di Italia pun juga tidak ada yang semegah Derby della Capitale. Misalnya Derby della Madonina, Derby d'italia, atau Derby della Mole yang terasa masih lebih "bersahabat".

Anda tentu boleh mempunyai pendapat lain, tapi coba perhatikan beberapa hal yang akan saya coba ceritakan. Pertama latar belakang dari rivalitas ini tidak hanya soal sepakbola. Banyak unsur-unsur politik juga yang sering sengaja disampaikan dari pendukung-pendukung kedua klub. Para suporter di Kota Roma seakan memang memperlihatkan bahwa pertandingan derbi ibu kota ini tidak hanya sekekdar permainan. Klub AS Roma didirikan hasil penggabungan dari tiga tim. Roman, Alba-Audace dan Fortitudo, yang merupakan instruksi dari rezim fasis yang berkuasa dan diprakarsai oleh Italo Foschi. Pada masa itu Benito Mussolini memang sengaja menginginkan sebuah klub asal Roma yang kuat untuk menantang dominasi klub dari utara yang sangat perkasa seperti Juventus, AC Milan, Internazionale dan Torino. Namun ada satu klub yang menolak merger tersebut, tidak lain adalah Lazio. Hal ini juga merupakan pengaruh salah satu jendral fasis, Giorgio Varccaro. Dari sini dimulai persaingan antara kedua klub. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa AS Roma mewakili kaum buruh, karena mempunyai basis penggemar yang banyak di berbagai penjuru kota, sedangkan Lazio adalah representasi dari kaum borjuis, pendatang yang ingin menguasai Roma. Asumsi ini dibalas Lazio dengan menyebutkan bahwa mereka lebih dulu terbentuk dari AS Roma, maka Lazio lah yang berhak menguasai kota. Lazio didirikan tahun 1900 dan AS Roma baru didirikan 27 tahun setelahnya.  "Italia bukan lah negara bersatu seperti Amerika Serikat. Orang di sini lebih menganggap diri mereka sebagai Roman, atau Tuscan atau Sisilia dibanding Italia." jelas Franco Spicciarello penulis olahraga ternama di Kota Roma.


Sebenarnya pendukung kedua klub mempunyai kesamaan, yaitu membenci arogansi klub dari utara. Namun fakta bahwa AS Roma dan Lazio tetap tidak banyak meraih gelar dibandingkan klub raksasa utara menyempitkan pandangan kedua pendukung. Roministi dan Laziale semakin berpikir bahwa mereka setidaknya bisa menguasai Kota Roma yang malah meruncingkan persaingan kedua klub.  Rivalitas semakin terbentuk sampai menimbulkan kebencian yang melebih rasa cinta terhadap klubnya sendiri. Bisa dilihat ketika persaingan antara AS Roma dan Internazionale sedang sangat ketatnya dalam perebutan gelar juara, Laziale berulah dengan mencoba mengancam pemainnya sendiri saat pertandingan antara lazio dan Inter digelar. Spanduk seperti "Biarkan bolanya masuk Muslera (Penjaga gawang Lazio saat itu), maka kau akan tetap kami cintai!" lalu ada juga "Jangan kamu berani mencetak gol, Zarate! Atau akan kami paketkan ke Buenos Aires!" Jose Mourinho yang melatih Inter saat itu pun heran. "Tidak pernah saya melihat hal seperti ini," katanya. Hal seperti ini bahkan tak hanya sekali dilakukan oleh pendukung Lazio. Lalu juga beberapa kali Laziale bertindak rasis kepada pemain Roma yang kebetulan banyak diperkuat pemain Brazi berkulit hitam. Dari kubu romanisti juga beberapa kali melakukan ejekan yang sarkas kepada pemain Lazio, bahkan juga mantan pemain Lazio. Korbannya adalah Paulo Negro. Saat Roma berhasil merebut Scudetto pada tahun 2001, Roma hanya memimpin tipis diatas Juventus. Tentu hasil pertandingan derbi ibu kota saat itu sangat berpengaruh untuk kejayaan Roma saat itu. Kebetulan kemenangan 1-0 terjadi berkat gol bunuh diri bek Lazio, Paulo Negro. Nasib buruk bagi Negro saat sudah pindah membela Siena, Romanisti melakukan standing applause tepat saat Negro memasuki lapangan di pertandingan Roma melawan Siena. Sebuah ejekan yang akan selalu menjadi beban seumur hidup mungkin.

Para icon dari kedua klub juga banyak memberikan cerita seru saat Derby della Capitale berlangsung. Misalkan head to head antara Pangeran Roma, Francesco Totti dan kapten Lazio saat itu, Alessandro Nesta. Kedua pemain sempat beradu skill, dimana kepiawaian Nesta menjaga daerah pertahanan diimbangi dengan visi dan kemampuan Totti mengatur serangan, bahkan sempat terjadi tensi tinggi antara kedua pemain yang sama-sama memperkuat tim nasional Italia itu. Kemudian ada aksi pemboikotan pertandingan di Tahun 2003. Saat itu tiga pimpinan suporter turun ke lapangan untuk berbicara langsung kepada Totti. Terdengar oleh pemirsa di televisi kalau suporter akan membunuh para pemain jika pertandingan tidak dihentikan, alasannya ada anak kecil terbunuh di luar stadion akibat ulah polisi. Mendengar itu Totti berdiskusi dengan wasit dan pengurus pertandingan, yang berakhir dengan keputusan pertandingan harus ditunda. Ternyata setelah diusut berita anak kecil yang terbunuh hanya hoax dan akal-akalan beberapa suporter Roma untuk membalas perlakuan Polisi yang dianggap sewenang-wenang. Pernah juga disela pertandingan kedua suporter saling melempar mercon dan kembang api sampai memaksa pertandingan dihentikan sementara.  Kedua kapten tim saat itu, Paolo Di Canio dan Francesco Totti pun sampai harus berdamai sementara untuk menghampiri tribun suporter guna mengendalikan keadaan.


Banyak drama yang terjadi disetiap pertemuan Roma dan Lazio. Kali ini Roma datang dengan membawa tren bagus dibanding Lazio. Berada di posisi kedua dengan hanya sekali kalah dari pemimpin klasemen, Juventus, Roma mencoba memberikan permainan menyerang ala Rudi Garcia. Lazio juga kali ini sedang menanjak performanya setelah berpindah pelatih dari Vlad Petkovic ke Edy Reja. Drama apa yang akan tercipta di Derby della Capitale kali ini? Saya pasti akan selalu berharap Roma yang berjaya.

Minggu, 19 Januari 2014

Ke Entah Berantah

Halo. Permisi.
Gokil juga. Terakhir gue nulis blog April 2013, yang berarti udah sekitar 9 bulan yang lalu. 
Setara dengan durasi ibu mengandung. Kalo mengandungnya normal ya. Ya kalo nggak normal kan bisa lebih cepet gitu kan, atau malah lebih lama. Anaknya betah di dalem. Males ke dunia luar yang sudah hina ini. Banyak kejahatan dan korupsi. Somay pun sudah bukan ikan tenggiri. Daging sapi dipolitisasi. 

Oke. Maaf.
Fokus.

Dari judul blognya aja udah My Life Intermezzo. Mestinya nggak susah kan temanya. Ini entah gue nggak ada intermezzonya sama sekali akhir-akhir ini jadi gak bisa nulis atau hidup gue lagi intermezzo semua. Hahaha.
Kayanya sih alasannya ya emang lagi intermezzo semua hidup yang sedang gue jalani. cie gitu...

Disela intermezzo itu gue menemukan intermezzo lagi. Jadi semacam intermezzo-ception. Setelah sebelumnya gue share musiknya Dini Budiayu sama Paroeh Waktoe, sekarang gue nemu Bandaneira! Masih termasuk musik "ngamar" yang kaya gue bilang sebelumnya mungkin, tapi beda. Bandaneira ini lebih ceria. Kaya bangun pagi pas lagi camping. Seneng aja denger mereka ini.

Pertama kali gue tau Bandaneira itu dari soundcloud. Awalnya dari follow Rahne terus liat ada Rara Sekar yang akhirnya gue follow juga. Lalu gue bisa dibilang jatuh cinta pada pendengaran pertama. Suara si Rara ini enak banget. Ibarat coklat tuh Cadbury. Pas tau dia bikin Bandaneira fix lah gue ngefans.

Setelah gue cuma bisa menikmati Bandaneira dari soundcloud doang akhirnya bisa ketemu mereka dan liat mereka live perform di GFJA. Padahal waktu itu cuma tau bakal ada Float. Bisa dibilang jackpot! Hehe. Kalo liat langsung waktu itu sih lucu. Lucu yang kocak, kaya grogi. Karena disitu diliatin Float mungkin, atau emang gigs di GFJA tuh emang gokil. Hahaha. Padahal mereka udah keren banget dengan Bandaneria-nya itu. Nah, yang gue kaget sih pas tau si gitaris dan vokalis cowonya, Ananda Badudu, nggak seperti apa yang gue bayangkan kalo lagi dengerin Bandaneira. Gue pikir tongkrongannya kaya vokalisnya Dialog Dini Hari, yang brewok-brewok gimana. Nggak masalah sih. Intermezzo aja. Intermezzo di dalam intermezzo yang ternyata intermezzo juga. Oke silahkan minum panadol.

Bandaneira di GFJA
Terus baru sempet beli CDnya di Joy Land. Festival musik paling nyaman sih. Nyaman di kantong terutama, dan nggak penuh. Artisnya juga nggak ada batas sama penontonnya. Pas lagi nonton Dialog Dini Hari ada satu lagu yang malah Dadang, vokalisnya DDH request penontonnya nyanyi di depan kalo mau lanjut. Gue pengen banget nekat naik panggung tapi kurang di dorong aja sama temen gue, jadi keduluan. Alesan. tapi yah gimana.. Sedikit menyesal. cih.. Oh iya maap. Fokus. 

Karena Joy Land itu seperti yang gue bilang tadi, artis sama penontonnya nggak ada batas. Bisa membaur aja. Bisa aja tiba-tiba yang duduk sebelah lo tuh artis yang lagi nunggu giliran manggung. Suatu hari gue harus manggung disana juga. Biar bisa keren jalan-jalan keliling festival sok asik ngobrol sama orang terus tiba-tiba manggung. Ternyata artis. cie gitu... Akhirnya disana gue bisa sempet ngobrol dan minta tanda tangan Bandaneira. Mayan.

Gue dan Rara
Kalo diliat dari albumnya, Beberapa lagu Bandaneira udah bisa didenger di soundcloudnya. Tapi tetep puas sama isinya. Track pertamanya langsung dikasih lagu "alarm". Liriknya aja disuruh bangun. Judulnya Berjalan Lebih Jauh. Lagu ini sempet gue puter terus di soundcloud. Mungkin gue salah satu penyebab utama lagu ini keputer sampe puluhan ribu. Kalo gue disuruh rekomendasi lagu apa yang harus didenger di album ini ya semuanya. Semua lagunya enak. Seriusan! Kalo kata mereka genre musik yang dibawain tuh "Nelangsa Riang". Mungkin ada yang bilang Bandaneira ini bakal mirip-mirip Endah and Rhesa karena sama-sama duet akustikan, kalo kata gue sih beda. Bukannya salah satu ada yang lebih bagus tapi emang dua-duanya punya karakter. Halah sok pakar. Tapi bener, yang paling terasa itu ya sederhananya musik Bandaneira yang menyenangkan didenger ditambah duet suara Rara Sekar sama Ananda Badudu yang pas. Mereka kaya udah jodoh bisa duet nyanyi bareng gitu. Seperti sudah ditakdirkan berkolaborasi oleh Tuhan. Ibarat minuman tuh Kopi Susu kali ya. Eh jangan deh, ntar yang jadi kopi kesian. Fanta sama susu kali. Dimana Fanta dan Susu ini emang bisa diminum sendiri-sendiri dan tetep enak, tapi kalo digabungin, diaduk menjadi satu, bercampur, bersenyawa, dan kunfayakun! Jadi lah Soda Gembira! Nelangsa riang! Bandaneira! Asik ye analogi gue? Asikin lah.

Lalu dan kemudian, mereka juga kreatif memaksimalisasikan kesederhanaan musik Bandaneira. Misalnya di lagu Esok Pasti Jumpa. Humming sama impersonisasi terompet yang masuk ke kuping tuh sedap banget. Jadi sederhana yang super mahal. Kaya restoran padang. Terus lagu Senja di Jakarta yang "nelangsa riang" banget. Hujan di Mimpi yang bikin nerawang. Rindu, musikalisasi puisi yang sekali denger langsung nempel. Suara-suara xylophone yang menghipnotis. Semuanya enak lah. Mau dibahas satu-satu nanti jadi takut jadi berlebihan. Pokoknya semua enak. Suara Rara enak banget parah kacau gokil, jatuh cinta sama vibranya. Terus Ananda jago banget main gitarnya, pake nyanyi juga pula. Gue main gitar yang cuma genjreng sambil nyanyi aja masih kaget-kaget. Gokil lah. Beli gih CDnya. Bisa difollow juga twitternya @dibandaneira. Nilainya 9. Nice works! 

Terimakasih sudah membawa saya pergi ke entah berantah.
Dan kamu yang menemani saya berjalan lebih jauh.



:)

Senin, 01 April 2013

"Karena se-paroehwaktoe kami untuk musik."

Paroeh Waktoe


Sekarang nggak tau kenapa lagi menjamur musik-musik indie yang gloomy-gloomy gimanaaa gitu.. atau guenya aja yang selera kupingnya kearah situ terus. Mungkin emang saya yang lagi sangat suka lagu-lagu yang "menenangkan" perasaan. Jadi lebih sering dengerin yang akustikan, nggak terlalu rame, terus bisa bikin suasana yang enak. Nah, ini gue temuin di album Paroehwaktoe!

Sebenernya dari sebelum albumnya ada gue udah sering denger lagu-lagu mereka, tapi nggak nyangka kalau ternyata akan jadi superb banget albumnya. Bagaimana band ini bikin musik yang simpel di kuping, tapi juga mewah. Sesuai sama judul albumnya Imaginarium of midnight sound, lo begitu dengerin track pertamanya akan diajak berkhayal. Suasana malam yang nyampe di kuping jadi seperti sampul novel yang mengantarkan pendengarnya ke tema yang ada di halaman-halaman lagu yang ada di track selanjutnya. SABI siiiih! Dengerin pake headset sih kece abis suaranya. Kalo gue, pertama denger intronya nyoba untuk merem. Disana, di dalam suara-suara lantunan intro itu gue melihat diri gue ada di padang rumput luas tengah malem sambil ngeliat bintang, dan padang rumput disini terdengarnya sangat asri. (halah "asri"...). Nggak jauh dari sungai sama pegunungan. Padahal padang rumput itu nggak jauh dari kota, karena ada pesawat yang lewat. Untung nggak ada nyamuk di padang rumputnya, kan nggak enak dengerin lagu pake bawa Vape.

Jujur sih semua lagu di album ini enak. Udah berusaha objektif, walaupun mereka temen-temen gue juga. Tapi ini beneran enak semua. Suara saxophone Carol yang gila kerennya bikin album ini mewah banget, Suara bass sama drumnya Indra dan Indra ini (hahaha) yang membuat suasana ditiap lagunya tuh tenang, suara piano Pandji yang ngasih warna juga buat Paroehwaktoe, dan suara Quina yang membuat musiknya jadi bernyawa. (tsah ilah) Tapi seriusan! Semuanya enak. Pas! Buat pandji, gue akui suara lo di lagu All I Gotta Do ganteng. Ini gue nulis kalimat tadi buat memuji elu nji, menghabiskan banyak energi yang banyak. Mungkin setelah nge-blog gue bedrest 3 hari.

Sebenernya satu yang sangat berasa tuh, cepet banget buat dengerin satu album ini. Entah emang sebentar atau gue selalu menikmati sampe akhir. Hehehe.

Lagu yang sangat direkomendasikan buat nyengir-nyengir All I Gotta Do, Innocent as It Seems? (Thus, Spoke Valdano), sama Deborah. Terus lagu buat gegalauan at Rainbow's End sama Speak Lies to The Moon. Buat mikir lagu Terimakasih bisa juga, ini lagu paling gue suka! Terus lagu Cuci Jemur Setrika Biles terserah deh mau dimasukin kemana. Tapi sabi kok nji, lagu mabok lu. Sukses buat teman-teman saya, buat Paroehwaktoe!

(beranda sendja kapan neh? -_-)

@paroehwaktoe nih twitternya

BELI, JANGAN COPY PUNYA TEMEN AJA YA. APALAGI DIBAJAK, DIJUAL MP3-NYA. IH. KESIAN KAN.

nih agan-agannya







Selasa, 09 Oktober 2012

#intermezzo

Karena sesungguhnya berjudi dengan ketidak-pastian adalah keadaan yang selalu harus dilalui seorang juara















*lagi semangatin diri sendiri* 

coba kamu bisa semangatin aku kaya gini

Minggu, 09 September 2012

Sometimes, Bitter is Sweeter to Taste

Kenapa?
Diliat dari judulnya kayak gue mau curhat-curhat kecil gitu ya?
*curhat-curhat kecil ki opooo tho?!*

Nggak kok, berhubung saya sedang berlimpah koneksi internet jadi mau disalurkan aja hobi nulis yang sudah lama hilang. Apa lagi blog ini juga udah jarang banget diurusin. *bersihin sarang laba2*
Mana kayanya baru berapa baris aja tulisan gue kok kaku amat ya? Bahasanya tuh jadi kaya canggung aja gitu, secanggung obrolan ketika lo diajak ngobrol sama orang di toilet umum pas lagi pipis. 

"Mas, udah sering pipis disini ya?" 
"Uh emmm... Yah lumayan lah.."
"Oh gitu.. Oke saya sudah selesai, duluan ya, Mas."
"Oh silahkan, hati-hati, Mas.."

Well, adegan diatas hanya berlaku di toilet cowo kayanya ya.
Nah, rencananya insya Alloh, jika Tuhan berkenan, alam mendukung, dan FPI masih pake sorban kalo naik motor saya mungkin mau dibiasakan kalo habis nonton film apa atau denger lagu apa atau baca apa terus direview diblog. Katanya buat mencegah pikun juga kan kalo sering nulis gitu.

Kali ini gue mau nulis tentang album musik yang seriiing banget keputer akhir-akhir ini. Judulnya "Sometimes, Bitter is Sweeter to Taste". Mau mati nggak tuh tau judul albumnya aja gitu? Kesannya kayak setelah denger lagu-lagunya tuh lo bakal ditemukan mengambang di sungai dengan urat nadi terurai dan mata sembab. Tapi tenang, ternyata nggak gitu kok. Gue buktinya masih sehat. *bahkan terlalu sehat setelah lebaran kemarin. Penyanyinya adalah Dini Budiayu, jujur gue belum pernah liat orangnya gimana, malah gue bisa dapet lagunya dari temen gue yang pulang liputan event musik bawa oleh-oleh CD. Orang itu bernama Pandji Putranda si pria seribu derita yang akhir-akhir ini lebih sering pacaran sama laptopnya, namun ternyata kemarin dapet banyak surat cinta dari mahasiswa baru. Sialan. Aku iri. Coba gue ikutan jadi panitia yang ospek, pasti banyakan surat ke gue! 

Oke ngelantur.
Jadi, buat kalian penikmat musik-musik ngamar pasti cocok banget nih! Maksud ngamar tuh musik-musik yang akustikan tenang dengan lirik yang bikin nerawang kemana-mana dan efeknya makin seru kalo dinikmati di kamar sambil matiin lampu, nyalain AC, selimutan terus bukannya lo ketiduran malah jadi mikir macem-macem. *makin oke kalo sambil bakar sayuran yang itu lho...


Nah, pertama lo akan disambut genjrengan gitar dari lagu temporarily broken. Ini menurut gue nendang. Gue suka banget lagu ini karena seperti membuka kenyataan bahwa ternyata orang yang sedang jatuh cinta tuh ya "temporarily broken", too bright and confusing she said. Terus lo dibikin pengen ikutan berpikir apa sih cinta itu? Nggak perduli seberapa indah sensasi yang dirasakan, kalo lo mau melihat dari sudut pandang lain pasti lo sendiri bakal mempertanyakan "kenapa sih gue?"

Lagu kedua Minor Song of Mine. Jujur aja, gue suka banget sama musiknya dan suaranya Dini disini. Superb! Lagu favorite nomer satu di album ini. Sekali denger langsung suka!

Teruus, longkap melewati beberapa track, langsung ke lagu "I Love You to Much". Bagus nih buat yang lagi susah move on. Hahaha..
"I love youuuuuuu...huuuuu...youuuu uuuuuu.... I love youuuu to much beb...." enak banget vibranya di lirik ini. Jadi ikutan bergetar.

Itu tiga lagu yang gue suka banget. Bukan berarti yang lainnya jelek atau biasa aja. Semuanya oke banget! Serius! Emang kebetulan aja tiga lagu diatas nempel banget di kuping gue. Jadi itu yang gue bahas. Lagu lainnya yang gue rekomen, Senja yang Sendu, None of You Will Marrie Me, Seharian, dan Mistress. 

Nilainya 9. 
Keren. 
Beli deh, gak nyesel. Beli dimana gue sih nggak tau ya. Soalnya di toko cd yang di mall gitu nggak ada. Ini aja gue ada karena emang beli pas dia nyanyi. Mungkin bisa tanya ke orangnya langsung di @dinibudiayu. Pokoknya kalo udah punya, siap-siap memasuki dunianya si dini yang kesannya gelap tapi menenangkan. Sensasi tenangnya tuh kaya lo minum coklat panas di sore waktu mendung dingin. Hmmm yah emang sensasi kaya gini juga bisa didapetin kalo lo sambil meluk pacar super model yang taat beragama, sayang anak kecil, hormat kepada pasangan dan orang tua, suaranya bagus, dan tidak bau ketek. Lebih tenang kayanya sih. heeeeeem nyeeem...

Btw, lagu Mistress sama Temporarily Broken udah ada video clip-nya. Mungkin bisa disearch di youtube.