Senin, 19 Januari 2015

Rudi Garcia dan Pengawal Sayapnya


Sudah lebih dari tiga kali Roma musim ini menyianyiakan kesempatan menikung Juventus. Saya sendiri sudah hampir bosan dengan judul-judul media saat Juventus terpeleset. Dari headline “Saatnya Roma menyodok capolista” hingga yang bernada penuh semangat kutipan Radja Nainggolan “Ini saatnya kita rebut posisi nomor satu “. Seperti solider dengan Juve, Roma malah ikut-ikutan terpeleset.

Bek Sayap

Bekal yang dibawa Garcia jelas lebih banyak untuk mengarungi musim ini dibanding debutnya tahun lalu. Namun beberapa celah mulai terlihat mengganggu. Bagai daging yang terselip diujung gusi, salah satunya kehadiran Ashley Cole seperti hanya geli-geli saja. Alih-alih me
njadi pemain bintang, bapak yang sempat sukses menjadi salah satu bek kiri paling berbahaya di tanah Inggris ini malah menjadi celah buat para penyerang lawan. Cole terlihat tergopoh-gopoh dimakan usia untuk menyisir sisi kiri lapangan. Dengan Balzareti yang cedera praktis Roma menyisakan Jose Holebas. Orang yang baru saja saya tau keberadaannya tahun ini. Beruntung ternyata bek Yunani ini cukup ajaib untuk ukuran bek kiri. Lihat saja golnya ke gawang Inter Milan.

Di sisi kanan Roma menyediakan bek senior Maicon dan Torosidis. Bukan mau merendahkan Maicon, namun bagai Cinderela, Maicon hanya mampu sangat maksimal setengah babak saja. Lebih dari itu dia asam uratnya kambuh (sepertinya). Torosidis sang pelapis pun tidak terlalu wah. Kadang Florenzi dipaksa mengisi posisi ini jika keduanya sedang kumat.

Melihat situasi ini membuat saya bernostalgia ke awal 2000-an. Posisi bek sayap yang diisi duet Vincent Candela dan Marcos Cafu mungkin salah satu yang terbaik di dunia saat itu. Selain mereka saya juga akan sangat ingat dengan bek kontroversial Cristian Pannuci.

“Ibarat mobil saya dan Cristiano Ronaldo sudah berbeda mesin, tidak mungkin saya mengejarnya,” ujar Pannuci saat begitu frustasinya menjadi bulan-bulanan Ronaldo saat melawan MU.

Entah mungkin menjadi kebiasaan buat Roma pada tahun-tahun selanjutnya untuk membeli bek-bek sayap medioker. Yah, kalau tidak medioker pasti sudah memasuki usia om-om. Sebut saja Marco Casseti, Max Tonetto, Abel Xavier, Gabriel Heinze, atau John Arne Riise. Saat bergabung dengan skuad, mereka sudah berumur 30 tahun keatas. Terkesan hanya mengambil celah bek murah lumayan atau gratisan dari klub lain yang kebetulan habis kontrak saja. Mungkin ada pengecualian saat Walter Sabatini (Direktur Olahraga Roma) mendatangkan Jose Angel. Diantara morat-maritnya pertahanan Roma era Enrique, Jose Angel menjadi satu-satunya yang membuat saya merasa Roma masih memiliki bek bagus. Walaupun akhirnya dia dibuang oleh Zeman di musim selanjutnya.

Beberapa musim sebelumnya mungkin masih ada Cicinho bek sayap yang cukup memiliki nama dan tidak uzur. Tapi ya ternyata selain numpang cedera, performa  Cicinho tidak lebih baik dari Marco Casetti kala itu. (intermezzo) apa menurut kalian Marco Casetti mirip Gary Iskak?


Mungkin ada baiknya Garcia mulai memikirkan kembali posisi ini  setidaknya untuk musim depan. Saya rasa terlalu riskan untuk percaya kepada kumpulan paman yang menghuni posisi ini. Davide Santon atau Coentrao mungkin? Atau mencoba pemain akademi akan terlihat lebih menyenangkan dan murah.

Lebih menyenangkan bukan melihat promosinya pemain akademi di tim utama? Bayangkan saja, saat ini praktis hanya dua orang pemain utama yang merupakan produk asli akademi, yaitu Daniele De Rossi dan Francesco Totti. Mungkin bisa ditambah Alesandro Florenzi yang sedang mati-matian bersaing dengan Gervinho, Iturbe, Ljajic, dan sang kapten sendiri Totti.

Di posisi bek sayap sebenarnya beberapa kali Roma memunculkan nama-nama muda. Seperti Aleandro Rosi, Alessandro Crescenzi, Alessio Romagnoli, atau yang teranyar Michael Somma. Aleandro Rosi sempat menyodok posisi bek kanan Roma di awal tahun 2011. Gaya drible yang sangat terlihat meniru Cristiano Ronaldo, sempat menjanjikan sebuah opsi serangan. Stamina dan kekuatan drible dari Rosi ini cukup membahayakan pertahanan lawan Bahkan Rosi bisa menjadi seorang bek yang berfungsi cut inside yang menusuk langsung ke dalam kotak pinalti. Namun di tahun selanjutnya dia dipinjamkan ke klub lain dan digeser bek antah berantah Ivan Piris.

Alessandro Crescenzi lebih mengharukan. Setelah debut diusia 17 tahun pada musim 2009/2010 melawan Sampdoria, Crescenzi tidak pernah dipasang lagi dan selalu dipinjamkan. Total hingga musim ini beliau sudah dipinjamkan ke delapan klub. Sungguh pemain pinjaman sejati. Padahal menilik skill yang dimilikinya (jika mengintip dari game Football Manager dan PES),  Crescenzi merupakan bek serba guna. Dia mampu beroprasi di kanan atau di kiri lapangan. Fisiknya pun cukup kuat untuk seorang bek dan juga memiliki kecepatan yang lumayan. Entah, mungkin karena bau badan mungkin yang membuat dia susah diterima di ruang ganti tim utama hingga sekarang.

Lalu Alessio Romagnoli. Posisi aslinya adalah bek tengah. Namun sudah seperti hal lumrah, seorang bek debutan pasti tidak akan langsung dipercaya berdiri di depan gawang persis. Entah takut sang debutan gugup atau malah membuat kiper dibelakangnya was-was. Sempat dipasang sebagai bek kiri, ternyata Romagnoli cukup mengesankan mengawal sisi kiri. Tubuhnya yang cukup menjulang setinggi 188 cm bisa jadi kelebihan khusus. Mungkin hanya perlu waktu sedikit lagi untuk menunggu matangnya Romagnoli. Saat ini dia sudah menjadi salah satu pilihan utama di Sampdoria.


Kemudian yang baru saja naik kelas tahun ini. Michael Somma. Saya sempat berpikir kalau dia ini adalah penyerang sayap karena acap kali muncul namanya di papan skor saat laga pra musim. Mengejutkan memang untuk seorang anak bawang. Garcia seharusnya sudah memikirkan opsi Somma untuk menggeser posisi Maicon, atau setidaknya Torosidis. Namun sepertinya Torosidis selalu punya cara mengambil hati para pelatih untuk tetap meyakinkan dirinya tetap di tim utama (setidaknya cadangan utama lah). Padahal Torosidis ini ibarat caleg, tidak memberikan inovasi sama sekali. Cuma ya bisa saja jadi bek kanan.


Mungkin sudah saatnya Garcia mengintip para pemain muda. Kalau itu terlalu riskan, ya bukan waktunya tambal sulam pemain harga + skill pas-pasan.

2 komentar:

  1. Nice info gan! Kebetulan ane minim banget pengetahuannya sama sepak bola di luar inggris sama spanyol gan. Hehe. Thanks gan ^^

    BalasHapus